UCI Bela Tes Doping Tengah Malam Tour de France: Langkah Ekstrem demi Integritas
Baca dalam 60 detik
- UCI mempertahankan tes doping dadakan pukul 2-5 pagi terhadap Tadej Pogacar dan Jonas Vingegaard sebagai langkah luar biasa untuk menjaga kredibilitas balap sepeda.
- Serikat pembalap CPA mengecam praktik ini karena mengganggu pemulihan atlet, sementara UCI menegaskan tes hanya dilakukan dalam kondisi terbatas dan terjustifikasi.
- Kontroversi ini menyoroti ketegangan antara pengawasan anti-doping yang ketat dan kesejahteraan atlet, relevan bagi Indonesia yang mulai serius memberantas doping di olahraga nasional.

Persatuan Balap Sepeda Internasional (UCI) angkat bicara membela kebijakan tes doping dadakan pada dini hari yang menyasar dua bintang Tour de France, Tadej Pogacar dan Jonas Vingegaard. Dalam pernyataan resmi, UCI menegaskan bahwa pemberantasan doping tetap menjadi prioritas mutlak, meskipun langkah ini menuai kritik dari serikat pembalap karena dianggap mengganggu pemulihan atlet.
Pogacar, pemimpin klasemen dari UAE Team Emirates-XRG, menjalani tes pada pukul 5 pagi waktu setempat, sementara Vingegaard dari Visma-Lease a Bike diuji sekitar pukul 2 pagi pada hari Minggu pekan lalu. Vingegaard sendiri telah mundur dari perlombaan setelah insiden tersebut. UCI menyebut pengawasan di luar jam normal ini sebagai tindakan "luar biasa" yang hanya diterapkan dalam situasi terbatas dan terjustifikasi.
Kritik paling keras datang dari Serikat Pembalap Profesional (CPA), yang menilai praktik tersebut kontraproduktif. Menurut CPA, tes tengah malam justru menghambat tujuan utama anti-doping karena mengorbankan waktu istirahat dan pemulihan pembalapโfaktor krusial dalam kompetisi seketat Tour de France. Pembalap Slovenia Matej Mohoric juga mengaku mengalami tes serupa pukul 5 pagi tanpa menyebut tanggal pasti.
UCI membela kerja sama dengan Badan Tes Internasional (ITA) yang menjalankan program anti-doping sejak 2021. Dalam pernyataannya, UCI mengakui bahwa tes malam hari dapat mengganggu istirahat, namun menekankan bahwa langkah ini diperlukan untuk menjaga integritas olahraga. Organisasi itu juga mendukung penuh penggunaan segala cara yang dimiliki ITA untuk menjalankan misinya seefektif mungkin.
Gerakan Balap Sepeda Kredibel (MPCC) turut angkat bicara, mendesak agar isu ini terus disorot dan sistem anti-doping yang kuat dikembangkan. MPCC mengingatkan bahwa sejarah balap sepeda penuh dengan celah yang dieksploitasi, sehingga identifikasi kerentanan menjadi esensial. Sementara itu, ITA mengonfirmasi telah menguji seluruh pembalap yang masih bertahan pada hari istirahat kedua sebagai bagian dari program Paspor Biologis Atlet yang komprehensif.
Bagi Indonesia, kontroversi ini relevan mengingat upaya pemberantasan doping di olahraga nasional yang semakin gencar. Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan Lembaga Anti-Doping Indonesia (LADI) terus memperketat pengawasan, termasuk tes kejutan di luar jam kompetisi. Namun, keseimbangan antara deteksi dan hak atlet atas pemulihan menjadi tantangan serupa. Akankah Indonesia mengadopsi pendekatan serupa atau memilih jalan tengah yang lebih manusiawi?



