Obat Hepatitis B Bepirovirsen Tunjukkan Hasil Fungsional pada 1 dari 5 Pasien
Baca dalam 60 detik
- Uji klinis fase 3 menunjukkan bepirovirsen mampu mencapai kesembuhan fungsional pada 19% pasien hepatitis B kronis dengan kadar HBsAg rendah.
- Obat ini bekerja dengan menargetkan RNA virus, berbeda dari terapi antiviral konvensional yang hanya menekan replikasi.
- Keberhasilan ini membuka jalan menuju pengobatan terbatas yang dapat menghentikan terapi seumur hidup, meski masih perlu penelitian lanjutan.

Setelah puluhan tahun pasien hepatitis B kronis harus menjalani pengobatan seumur hidup tanpa harapan sembuh total, hasil uji klinis fase 3 yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine menunjukkan bahwa obat eksperimental bepirovirsen mampu mencapai kesembuhan fungsional pada sekitar satu dari lima pasien yang memenuhi kriteria tertentu. Temuan ini menjadi titik terang bagi 250 juta penderita di seluruh dunia yang berisiko tinggi mengalami sirosis dan kanker hati.
Dalam studi B-Well 1 dan B-Well 2 yang melibatkan lebih dari 1.800 orang dewasa dari 29 negara, peserta yang telah menjalani terapi analog nukleotida (NA) setidaknya enam bulan diberikan suntikan bepirovirsen 300 mg atau plasebo setiap minggu selama 24 minggu, kemudian dilanjutkan dengan terapi NA tambahan. Hasilnya, pada minggu ke-72, 19% peserta dengan kadar HBsAg di bawah 3.000 IU/ml dan 26% dengan kadar di bawah 1.000 IU/ml mencapai kesembuhan fungsional—ditandai dengan hilangnya HBsAg dan DNA virus yang tidak terdeteksi selama 24 minggu setelah penghentian terapi. Tidak ada satu pun penerima plasebo yang mencapai hasil serupa.
Bepirovirsen termasuk dalam kelas antisense oligonucleotide (ASO) yang bekerja dengan menargetkan RNA messenger virus, berbeda dengan obat antiviral konvensional yang hanya menghambat replikasi. Dengan menekan produksi protein virus, termasuk HBsAg yang selama ini menekan respons imun, obat ini memungkinkan sistem kekebalan tubuh kembali mengenali dan mengendalikan sel hati yang terinfeksi. Menurut Seng-Gee Lim, Direktur Hepatologi di National University Health System Singapura, “Ini adalah langkah pertama menuju kesembuhan fungsional dan memberikan harapan bagi penderita hepatitis B.”
Bagi Indonesia, di mana prevalensi hepatitis B diperkirakan mencapai 7-10% dari populasi, temuan ini membawa angin segar. Sebagian besar pasien di Indonesia masih bergantung pada terapi antiviral jangka panjang yang mahal dan memerlukan kepatuhan tinggi. Opel Baker, dokter umum di Mayfield Clinic Brighton, Inggris, menekankan bahwa kesembuhan fungsional tidak hanya mengurangi risiko komplikasi serius seperti sirosis dan kanker hati, tetapi juga meringankan beban psikologis akibat stigmatisasi. “Kepatuhan terhadap terapi jangka panjang seringkali rendah, sementara kesembuhan fungsional berarti pasien bisa berhenti minum obat,” tambah Lim.
Meski menggembirakan, hasil ini belum bisa diterapkan pada semua penderita. Studi hanya melibatkan pasien tanpa sirosis dan dengan kadar HBsAg relatif rendah. Sekitar 80% peserta tidak mencapai kesembuhan, dan efek samping bepirovirsen lebih sering terjadi dibanding plasebo, meski umumnya ringan hingga sedang. Para peneliti berencana mengombinasikan bepirovirsen dengan vaksin terapeutik atau agen imun lain untuk meningkatkan angka kesembuhan.
Ke depan, pertanyaan terbesar adalah apakah respons ini bertahan dalam jangka panjang dan mampu menurunkan angka kanker hati secara signifikan. Regulasi dan studi lanjutan masih diperlukan sebelum obat ini bisa digunakan secara luas. Namun, seperti diungkapkan Baker, “Penelitian bergerak cepat, dan ada alasan untuk optimis. Pasien tetap harus melanjutkan pengobatan yang diresepkan dan berkonsultasi dengan dokter sebelum mengubah terapi.”



