Konflik Iran-AS Memanas, Gubernur BI Peringatkan Kebijakan Moneter Global Makin Ketat
Baca dalam 60 detik
- Eskalasi konflik Iran-AS pada Juli 2026 mengganggu jalur Selat Hormuz, memicu kenaikan harga energi dan komoditas.
- Gubernur BI Perry Warjiyo memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global hanya 3% dengan inflasi 4,5% akibat ketidakpastian geopolitik.
- Bank Indonesia mengantisipasi pengetatan moneter global yang dapat menekan nilai tukar rupiah dan arus modal asing.

Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat yang kembali memanas pada awal Juli 2026 membuat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) angkat bicara. Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut eskalasi konflik di Timur Tengah itu semakin memperburuk prospek ekonomi global dan memaksa bank sentral di berbagai negara untuk mengambil sikap moneter yang lebih ketat.
Dalam konferensi pers usai Rapat Dewan Gubernur BI, Rabu (22/7/2026), Perry menjelaskan bahwa gangguan lalu lintas di Selat Hormuz akibat meningkatnya intensitas perang telah menghambat rantai pasok energi dunia. Akibatnya, harga minyak dan komoditas global kembali merangkak naik, menekan negara-negara importir energi seperti Indonesia.
Perry memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tahun ini hanya akan mencapai 3%, melambat dari proyeksi sebelumnya. Di saat bersamaan, tekanan inflasi global diperkirakan meningkat hingga 4,5%, jauh di atas target kenyamanan bank sentral. "Kebijakan moneter global lebih ketat," ujarnya, menegaskan bahwa suku bunga acuan di negara maju dan berkembang akan tetap tinggi dalam waktu yang lebih lama.
Bagi Indonesia, dampak konflik ini terasa langsung melalui kenaikan harga minyak mentah yang membebani APBN dan subsidi energi. Selain itu, pengetatan moneter global berpotensi memicu arus modal keluar dari pasar keuangan Indonesia, menekan nilai tukar rupiah, dan meningkatkan imbal hasil obligasi pemerintah. Bank Indonesia sendiri telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada bulan lalu untuk mengantisipasi tekanan inflasi impor dan stabilitas nilai tukar.
Menurut analis ekonomi dari Universitas Indonesia, dampak konflik Iran-AS tidak hanya bersifat jangka pendek. Gangguan di Selat Hormuz dapat berlangsung berbulan-bulan jika tidak ada resolusi diplomatik. "Indonesia perlu mempercepat diversifikasi sumber energi dan memperkuat kerja sama regional untuk mengurangi ketergantungan pada jalur tersebut," ujarnya.
Ke depan, Perry mengingatkan bahwa ketidakpastian global masih tinggi. Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan geopolitik dan kesiapan untuk menyesuaikan kebijakan moneter guna menjaga stabilitas ekonomi domestik. Pertanyaan besarnya, sejauh mana konflik ini akan berlarut dan apakah negara-negara besar mampu menahan laju eskalasi sebelum dampaknya semakin meluas ke sektor riil.



