Lima Ciri yang Menandai Kelas Bawah di Tengah Klaim Penurunan Kemiskinan Ekstrem
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo menyebut angka kemiskinan ekstrem Indonesia menurun ke level terendah, namun indikator sosial masih menunjukkan kesenjangan.
- Lima ciri utama kelas bawah meliputi keterbatasan tempat tinggal layak, jenis pekerjaan informal, minim tabungan, ketiadaan dana liburan, dan rendahnya akses pendidikan tinggi.
- Tabungan dan rencana pensiun menjadi pembeda signifikan antara kelas bawah dan kelas menengah, di mana kelas bawah sulit membangun penyangga finansial.

Di tengah klaim pemerintah bahwa tingkat kemiskinan ekstrem di Indonesia terus menurun hingga mencapai titik terendah, sejumlah ciri struktural masih melekat pada segmen kelas bawah yang sulit diabaikan. Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya di World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, baru-baru ini menegaskan tren positif tersebut sebagai bagian dari komitmen jangka panjang pengentasan kemiskinan. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa definisi kelas bawah tidak semata-mata soal pendapatan, melainkan juga akses terhadap perumahan, pekerjaan, tabungan, dan pendidikan.
Merujuk pada analisis lembaga keuangan GoBankingRates, setidaknya ada lima karakteristik yang kerap menyertai kelompok kelas menengah bawah dan kelas bawah. Pertama, tempat tinggal yang tidak layak dan tidak aman di lingkungan yang decent menjadi beban terbesar. Di Indonesia, persoalan ini tercermin dari masih tingginya angka kekurangan rumah layak huni, terutama di perkotaan. Kedua, jenis pekerjaan dengan keterampilan rendah dan upah minim seperti pelayan restoran, sopir truk, atau buruh manufaktur cenderung menempatkan seseorang pada status kelas bawah. Nathan Brunner, CEO Salarship, menyebutkan bahwa posisi manajerial atau spesialis umumnya menjadi penanda kelas menengah.
Ketiga, kemampuan menabung dan berinvestasi merupakan kemewahan yang tidak selalu terjangkau kelas bawah. Tanpa cadangan keuangan, hampir mustahil membangun kekayaan jangka panjang. Di Indonesia, survei OJK menunjukkan sebagian besar masyarakat masih belum memiliki tabungan darurat yang memadai. Keempat, kebebasan finansial untuk menikmati liburan tahunan, makan di luar, atau membeli barang baru menjadi pembeda yang jelas. Ketidakmampuan melakukan pengeluaran diskresioner menandakan keterbatasan anggaran yang khas kelas bawah. Kelima, pendidikan tinggi menjadi gerbang mobilitas sosial, tetapi hambatan biaya kuliah sering menghalangi individu dari kelas bawah untuk meraih gelar sarjana.
Bagi pembaca Indonesia, lima ciri ini relevan untuk mencermati posisi ekonomi pribadi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) misalnya, menunjukkan bahwa tingkat partisipasi sekolah tinggi masih timpang antara kelompok kaya dan miskin. Pekerja informal yang mendominasi struktur ketenagakerjaan nasional juga memperkuat pola bahwa kelas bawah sulit keluar dari jerat kemiskinan tanpa intervensi kebijakan yang lebih terarah. Meski pemerintah mengklaim kemiskinan ekstrem menurun, indikator-indikator mikro ini masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Ke depan, apakah penurunan angka kemiskinan ekstrem akan diikuti oleh perbaikan akses terhadap perumahan layak, tabungan, dan pendidikan? Atau justru kesenjangan struktural tetap bertahan meski statistik membaik? Jawabannya akan menentukan apakah kelompok kelas bawah benar-benar merasakan manfaat pembangunan.



