Rupiah Terpuruk Mendekati Rp18.000, Tertekan Harga Minyak dan Tarif AS
Baca dalam 60 detik
- Rupiah ditutup melemah 0,25% ke Rp17.935 per dolar AS pada Jumat (24/7), sempat menyentuh Rp17.980, level terendah dalam sepekan.
- Tekanan berasal dari lonjakan harga minyak Brent di atas US$102/barel dan yield US Treasury tenor 10 tahun yang menembus 4,7%, tertinggi dalam 18 bulan.
- Pasar menanti rapat FOMC pekan depan di tengah spekulasi kebijakan monket The Fed yang lebih ketat akibat inflasi energi dan tarif baru.

Nilai tukar rupiah kembali tertekan ke level terlemahnya dalam sepekan terakhir, nyaris menyentuh Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan Jumat (24/7) akibat kombinasi lonjakan harga minyak dan penerapan tarif baru Amerika Serikat. Mata uang Garuda ditutup melemah 0,25% ke Rp17.935, sama dengan posisi pembukaan, setelah sempat terperosok hingga Rp17.980.
Pelemahan hari ini menjadi yang kedua berturut-turut. Secara mingguan, rupiah terkoreksi sekitar 0,25% dari posisi penutupan pekan lalu di Rp17.885. Meskipun indeks dolar AS (DXY) justru melemah 0,17% ke 101,275 pada sore hari, rupiah tak mampu memanfaatkan momentum tersebut. Tekanan tetap kuat dari tiga faktor utama: harga minyak yang melonjak, kenaikan imbal hasil obligasi AS, serta eskalasi perang dagang global.
Harga minyak Brent sempat menembus US$102 per barel, melonjak hampir 40% dalam sebulan terakhir. Pemicu terbaru adalah serangan kelompok Houthi terhadap dua kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah, yang memperparah gangguan pasokan di Selat Bab el-Mandeb dan Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump merespons dengan perintah serangan militer ke Iran, menambah ketidakpastian geopolitik. Lonjakan harga energi ini mendorong yield US Treasury tenor 10 tahun naik ke atas 4,7%, level tertinggi dalam 18 bulan, membuat aset dolar AS semakin atraktif.
Dari sisi kebijakan perdagangan, AS resmi memberlakukan tarif baru sebesar 10% dan 12,5% terhadap 60 mitra dagang, termasuk Indonesia yang dikenakan tarif 10%. Kebijakan ini menggantikan tarif global sementara yang berakhir hari yang sama. Tarif baru ini menekan prospek ekspor Indonesia dan menambah kekhawatiran inflasi global, yang pada gilirannya memperkuat dolar AS.
Pelaku pasar kini menanti pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pekan depan. Lonjakan harga energi dan kenaikan tarif memicu spekulasi bahwa The Fed akan mengambil sikap lebih hawkish. Jika suku bunga AS naik lebih cepat, tekanan terhadap rupiah bisa berlanjut, mengingat selisih suku bunga dengan Indonesia yang masih cukup lebar. Pertanyaannya, apakah Bank Indonesia akan kembali melakukan intervensi atau justru menahan diri sambil menunggu keputusan The Fed?



