Dana Asing Mengalir Deras ke RI, Tembus US$ 8,5 Miliar di Kuartal II-2026
Baca dalam 60 detik
- Bank Indonesia mencatat investasi portofolio asing masuk sebesar US$ 8,5 miliar pada kuartal II-2026, terutama dari SBN dan SRBI.
- Aliran dana asing ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.
- Pada kuartal III-2026, hingga 20 Juli, tambahan inflow US$ 0,1 miliar dari SBN menandakan tren positif berlanjut.

Aliran modal asing ke Indonesia terus menunjukkan tren positif. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa investasi portofolio asing pada kuartal II-2026 mencapai US$ 8,5 miliar, didorong oleh minat investor terhadap Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (22/7/2026), Perry menjelaskan bahwa masuknya dana asing ini menandakan keyakinan pasar terhadap fundamental ekonomi Indonesia. "Terutama didukung oleh SBN dan SRBI," ujarnya. SRBI, instrumen moneter baru yang diterbitkan BI, dinilai efektif menarik investor asing karena menawarkan imbal hasil kompetitif dengan risiko rendah.
Data BI menunjukkan bahwa aliran modal asing terus berlanjut pada awal kuartal III-2026. Hingga 20 Juli 2026, tercatat tambahan inflow sebesar US$ 0,1 miliar, yang sebagian besar berasal dari SBN. "Terutama dari SBN yang mencatat inflow sebesar US$ 0,1 miliar," papar Perry. Meskipun jumlahnya lebih kecil dibandingkan kuartal sebelumnya, tren ini menunjukkan bahwa kepercayaan investor asing masih terjaga.
Masuknya dana asing ini memberikan dampak positif bagi pasar keuangan Indonesia. Rupiah cenderung stabil, dan imbal hasil SBN mengalami penurunan, yang mengurangi beban pembiayaan utang pemerintah. Bagi investor domestik, kondisi ini menciptakan lingkungan yang kondusif untuk investasi obligasi dan saham. Namun, para analis mengingatkan bahwa aliran modal asing bisa bersifat volatile, terutama jika terjadi perubahan kebijakan moneter global atau gejolak geopolitik.
Konteks domestik menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi tujuan investasi yang menarik di kawasan Asia Tenggara. Dibandingkan dengan negara tetangga, imbal hasil SBN Indonesia relatif tinggi, sementara inflasi terkendali. Perry menambahkan bahwa BI akan terus memantau pergerakan modal asing dan siap melakukan intervensi jika diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah tren masuknya dana asing ini dapat bertahan hingga akhir tahun. Faktor eksternal seperti kebijakan suku bunga The Fed dan perlambatan ekonomi global akan menjadi penentu. Namun, dengan fundamental domestik yang solid, Indonesia optimistis dapat mempertahankan daya tariknya di mata investor global.



