Kebakaran Pabrik CRM, Krakatau Steel Kehilangan Produksi Baja Full Hard
Baca dalam 60 detik
- Insiden api di pabrik Cold Rolling Mill (CRM) Krakatau Steel pada 19 Juli 2026 menghentikan sementara produksi baja canai dingin tipe Full Hard.
- Perseroan melaporkan kejadian sebagai informasi material ke OJK dan akan menggandeng produsen CRC lain untuk menjaga pasokan di pasar domestik.
- Hingga kini belum ada estimasi kerugian atau jadwal pemulihan, membuat pelaku pasar menunggu perkembangan lebih lanjut.

Kebakaran yang melanda area produksi Continuous Tandem Cold Mill (CTCM) di pabrik Cold Rolling Mill (CRM) milik PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) pada 19 Juli lalu memaksa emiten baja pelat merah itu menghentikan sementara produksi baja canai dingin jenis Full Hard.
Manajemen Krakatau Steel melaporkan insiden ini ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui surat bernomor 070/Corsec-KS/2026 pada 23 Juli, mengkategorikannya sebagai informasi material sesuai POJK No. 31/POJK.04/2015 dan perubahan terbaru POJK No. 45/2024. Dalam keterbukaan informasi tersebut, perseroan menyebut peristiwa ini sebagai keadaan memaksa (force majeure) yang berdampak pada kelangsungan operasi pabrik CRM.
Akibat kebakaran, Plt. Corporate Secretary Krakatau Steel Rachman Hidayat menegaskan bahwa pabrik CRM tidak dapat memproduksi C old Rolled Coil (CRC) tipe Full Hard untuk sementara waktu. Meski demikian, perseroan memastikan fasilitas CRM masih berfungsi untuk menghasilkan CRC jenis Soft melalui Batch Annealing Furnace (BAF) dan produk Hot Rolled Pickled and Oiled (HRPO) dari Continuous Pickling Line (CPL). Artinya, gangguan produksi hanya terbatas pada satu jenis produk unggulan.
Untuk menjaga pasokan CRC Full Hard di pasar domestik, manajemen Krakatau Steel menyatakan akan menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan produsen CRC lain di dalam negeri. Langkah ini dinilai penting mengingat produk CRC Full Hard banyak digunakan oleh industri otomotif, elektronik, dan konstruksi di Indonesia. Dengan adanya keterbatasan pasokan lokal, harga baja canai dingin berpotensi mengalami tekanan jika pasokan impor tidak segera mengisi celah.
"Kami terus berupaya meminimalkan dampak terhadap pelanggan dengan menjajaki kerja sama dengan produsen CRC domestik lainnya," ujar Rachman dalam laporan resmi.
Hingga saat ini, perseroan belum merinci estimasi kerugian finansial maupun jangka waktu pemulihan pabrik. Ketidakjelasan ini membuat investor dan analis mencermati langkah Krakatau Steel selanjutnya, terutama dalam memenuhi kontrak pengiriman yang telah terjadwal. Kejadian ini juga mengingatkan kembali pentingnya manajemen risiko operasional di sektor manufaktur padat modal seperti baja.
Ke depan, pasar akan fokus pada kemampuan Krakatau Steel mengamankan pasokan alternatif dan memulihkan fasilitas CTCM. Jika proses perbaikan berlarut, bukan tidak mungkin pangsa pasar CRC domestik akan beralih ke pemain lain atau ke produk impor. Pertanyaan besarnya: seberapa cepat perseroan dapat kembali berproduksi normal, dan akankah insiden ini mengerek harga saham KRAS yang selama ini tertekan?



