BOJ Siap Percepat Kenaikan Suku Bunga Jika Inflasi Membandel
Baca dalam 60 detik
- Bank of Japan (BOJ) mengisyaratkan kesiapan menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan pasar jika tekanan harga dari yen lemah dan biaya impor terus meningkat.
- Beberapa anggota dewan gubernur melihat ruang untuk kenaikan lebih agresif, dengan pertemuan September dan Oktober berpotensi menjadi momen kunci tergantung pada keputusan harga perusahaan.
- Langkah BOJ ini berimplikasi pada stabilitas nilai tukar yen dan dapat mempengaruhi arus modal ke pasar emerging market, termasuk Indonesia.

Bank of Japan (BOJ) meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko inflasi yang dapat mendorong kenaikan suku bunga lebih cepat dari perkiraan pasar, menurut tiga sumber yang mengetahui pemikiran bank sentral tersebut. Sikap ini muncul di tengah tekanan harga dari pelemahan yen dan kenaikan biaya impor yang terus berlanjut.
Para pembuat kebijakan di BOJ menilai bahwa laju dan waktu kenaikan suku bunga tidak dapat dijadwalkan secara kaku, melainkan sangat bergantung pada perkembangan ekonomi dan harga saat itu. Namun, beberapa anggota melihat peluang untuk menaikkan suku bunga lebih cepat dari ekspektasi pasar yang memperkirakan dua kali kenaikan per tahun, terutama jika tekanan harga dari yen yang lemah dan biaya bahan bakar akibat konflik global mendorong inflasi lebih tinggi dari perkiraan.
โPerusahaan-perusahaan terus meneruskan kenaikan biaya dengan kecepatan yang cukup stabil, dan ekspektasi inflasi meningkat. Ini perlu diperhitungkan dalam menetapkan kebijakan,โ ujar salah satu sumber, yang pendapatnya diamini oleh sumber lain. Sumber ketiga menambahkan bahwa pertemuan pada September dan Oktober bisa menjadi โliveโ tergantung sejauh mana perusahaan menaikkan harga selama musim panas untuk menutupi biaya yang lebih tinggi.
BOJ diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada 1% dalam pertemuan pekan depan, namun akan merilis proyeksi triwulanan baru yang dapat memberikan petunjuk mengenai waktu kenaikan berikutnya. Sumber menyebutkan bahwa BOJ kemungkinan akan merevisi naik perkiraan pertumbuhan untuk tahun fiskal 2026 dan tetap fokus pada risiko inflasi yang melampaui target, karena kenaikan biaya dari yen lemah dan permintaan AI yang kuat mengimbangi penurunan harga minyak.
Dalam laporan sebelumnya pada April, BOJ memperingatkan risiko penurunan pertumbuhan dan kemungkinan lonjakan inflasi yang tajam di atas target 2%, yang dikaitkan dengan konflik global. Meskipun kedua risiko tersebut agak mereda, kemungkinan inflasi berlebih masih ada karena perusahaan lebih cepat meneruskan kenaikan biaya impor akibat yen yang lemah. Permintaan AI global yang kuat juga mendorong harga logam dan chip semikonduktor, yang pada gilirannya berpotensi menaikkan harga berbagai barang konsumen.
Dengan inflasi dasar yang sudah mendekati 2%, bahkan risiko inflasi yang moderat pun akan menarik perhatian lebih dalam menentukan waktu kenaikan suku bunga di masa depan. BOJ mungkin menghadapi tekanan untuk menyampaikan pesan hawkish pada pertemuan pekan depan, dengan yen yang berada di dekat level terendah 40 tahun, sebagian karena prospek perbedaan suku bunga AS-Jepang yang masih besar.
โPerusahaan-perusahaan terus meneruskan kenaikan biaya dengan kecepatan yang cukup stabil, dan ekspektasi inflasi meningkat,โ ujar salah satu sumber.
Konteks Indonesia: Sikap hawkish BOJ berpotensi memperkuat yen dan mengurangi tekanan depresiasi terhadap mata uang Asia lainnya, termasuk rupiah. Namun, jika BOJ menaikkan suku bunga lebih cepat, hal ini dapat memicu arus modal keluar dari pasar emerging market seperti Indonesia, karena investor mencari imbal hasil lebih tinggi di Jepang. Bank Indonesia perlu mencermati perkembangan ini dalam menentukan kebijakan moneternya, terutama untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi impor.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah seberapa agresif BOJ akan bertindak. Jika inflasi terus merangkak naik akibat kombinasi yen lemah dan kenaikan harga komoditas global, bukan tidak mungkin BOJ akan menaikkan suku bunga lebih dari sekali dalam setahun. Pasar akan mencermati proyeksi ekonomi terbaru BOJ pekan depan untuk mencari petunjuk arah kebijakan selanjutnya.



