Oasis Kukuhkan Rekor: (What's The Story) Morning Glory? Album Studio Terlaris Sepanjang Masa di Inggris
Baca dalam 60 detik
- Album kedua Oasis, (What's The Story) Morning Glory?, resmi dinobatkan sebagai album studio terlaris di Inggris dengan 6,2 juta unit chart, melampaui rekor album kompilasi.
- Pencapaian ini diumumkan dalam perayaan 70 tahun Official Albums Chart, menegaskan dominasi Oasis di industri musik Inggris selama tiga dekade.
- Rekor ini berpotensi menginspirasi musisi Indonesia untuk mengejar prestasi serupa di tengah perubahan kebiasaan konsumsi musik global.

Album legendaris Oasis, (What's The Story) Morning Glory?, secara resmi diakui sebagai album studio terlaris sepanjang sejarah Inggris Raya, menggeser posisi album kompilasi yang selama ini mendominasi tangga lagu. Pengakuan ini datang dari Official Charts Company dalam rangka perayaan 70 tahun Official Albums Chart, menandai tonggak baru bagi industri musik Inggris.
Dirilis pada 1995, album kedua Oasis ini berhasil mengumpulkan 6,2 juta unit chart di Inggris, menjadikannya album studio dengan penjualan tertinggi. Pencapaian ini melampaui album kompilasi seperti Queen's Greatest Hits dan ABBA Gold: Greatest Hits yang berada di posisi pertama dan kedua secara keseluruhan. Lonjakan streaming setelah tur reuni Live '25 pada musim panas lalu turut mendorong angka penjualan album ini.
Dalam daftar sepuluh besar album terlaris sepanjang masa, Morning Glory? berada di posisi ketiga secara keseluruhan, namun menjadi yang teratas di kategori album studio. Di belakangnya, Adele dengan album 21 menempati posisi keempat, disusul Fleetwood Mac's Rumours di posisi keenam, Pink Floyd's The Dark Side of the Moon di posisi ketujuh, dan Michael Jackson's Thriller di posisi kedelapan. Album debut Oasis, Definitely Maybe, juga masuk dalam daftar di posisi ke-39.
Becca Monahan dan Chris Austin, Co-Managing Director sementara Official Charts, menyambut pencapaian ini dengan antusias. Mereka menyebut album tersebut sebagai "rekaman Inggris yang tak tertandingi" yang terus menyatukan generasi dan mengisi stadion. "Tiga dekade berlalu, skala dan pengaruhnya tetap luar biasa," ujar mereka dalam pernyataan resmi. Mereka juga menekankan bahwa album tetap menjadi ekspresi tertinggi kreativitas, ambisi, dan visi seorang artis, meskipun cara penggemar menemukan dan menikmati musik terus berubah.
Bagi industri musik Indonesia, pencapaian Oasis ini menjadi pengingat bahwa album studio masih memiliki tempat istimewa di hati pendengar, meskipun tren streaming mendominasi. Di Indonesia, musisi seperti Tulus, Raisa, dan Isyana Sarasvati telah membuktikan bahwa album konseptual masih mampu menarik perhatian publik. Namun, belum ada album studio Indonesia yang menembus rekor penjualan setara dengan Morning Glory? di skala global. Pencapaian Oasis ini bisa menjadi inspirasi bagi musisi Tanah Air untuk terus berkarya dan menciptakan album yang tidak hanya laku, tetapi juga abadi.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: mampukah album studio lain, baik dari Inggris maupun Indonesia, menyaingi rekor ini? Dengan perubahan kebiasaan konsumsi musik yang semakin digital, tantangan untuk menciptakan album yang memiliki daya tahan selama tiga dekade semakin besar. Namun, seperti yang ditunjukkan Oasis, kualitas dan koneksi emosional dengan pendengar tetap menjadi kunci utama.



