Guillermo del Toro Tolak AI demi 'Pan's Labyrinth', Pilih Restorasi Mahal demi Seni
Baca dalam 60 detik
- Sutradara pemenang Oscar menolak penggunaan kecerdasan buatan dalam proses remastering 3D film fantasi gelapnya, meskipun biaya restorasi konvensional lebih tinggi.
- Del Toro mengaku kru sempat meragukan visinya saat syuting, terutama ketika makhluk mitologi muncul di tengah latar perang saudara Spanyol.
- Keputusan ini memicu diskusi di industri kreatif global, termasuk di Indonesia, di mana penggunaan AI dalam produksi film mulai diadopsi namun menuai perdebatan etis.

Guillermo del Toro memastikan tidak ada campur tangan kecerdasan buatan dalam proses restorasi 3D film 'Pan's Labyrinth' yang akan dirilis ulang pada akhir tahun ini. Dalam sambutannya di San Diego Comic-Con, sutradara kelahiran Meksiko itu menegaskan dirinya memilih metode restorasi konvensional yang justru lebih mahal ketimbang memanfaatkan AIโkeputusan yang ia nilai sebagai bentuk perlindungan terhadap nilai artistik karya.
Film yang pertama kali tayang pada 2006 tersebut akan kembali ke bioskop dalam format 3D untuk merayakan dua dekade perilisannya. Del Toro menolak tawaran penggunaan AI yang dinilai lebih efisien secara biaya. "Saya katakan, 'Sama sekali tidak ada AI keparat.' Jauh lebih mahal. Saya tidak peduli. Yang kami lindungi adalah keindahan dan kekuatan penebusan seni," ujarnya di hadapan penggemar.
Dalam sesi yang sama, del Toro juga mengungkapkan bahwa selama proses syuting, tidak semua kru percaya dengan visinya. Film berlatar Perang Saudara Spanyol (1936โ1939) ini menghadirkan makhluk-makhluk fantasi seperti faun dan Pale Man yang sempat dianggap aneh oleh tim produksi. "Mereka melihat faun masuk di tengah film perang saudara dan berkata, 'Orang ini gila.' Tapi saya ingat saat pertama kali saya yakin, saat kami syuting Pale Man," kenangnya.
Penolakan del Toro terhadap AI tak bisa dilepaskan dari gelombang kekhawatiran di industri kreatif global. Di Indonesia, penggunaan teknologi serupa dalam pembuatan film mulai marak, terutama untuk efek visual dan pengeditan. Namun, sejumlah sineas lokal menyuarakan kekhawatiran bahwa AI dapat menggerus orisinalitas dan sentuhan manusia dalam berkarya. Keputusan del Toro menjadi pengingat bahwa nilai seni seringkali tak bisa diukur dengan efisiensi biaya semata.
Del Toro juga menekankan pentingnya pengalaman menonton bersama di bioskop. Dalam kesempatan promosi film 'Frankenstein' di London, ia mengatakan, "Kami tidak pernah seterhubung dan sesendiri saat ini. Menonton film secara komunal memberi kita kecenderungan spiritual untuk empati, kemanusiaan, dan pengampunan." Pandangan ini relevan bagi industri perfilman Indonesia yang tengah mendorong kebangkitan bioskop pasca-pandemi.
Di tengah efisiensi yang ditawarkan AI, pertanyaan mendasar tetap mengemuka: sejauh mana teknologi boleh menggantikan sentuhan manusia dalam seni? Del Toro telah memberikan jawabannya dengan tegas. Kini, industri perfilman Indonesia pun harus memutuskan jalannya sendiri.



