BI Pukul Rata Ekspektasi Pasar: Suku Bunga Acuan Tetap 5,75%
Baca dalam 60 detik
- Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di 5,75% dalam RDG Juli 2026, menepis konsensus yang memperkirakan penurunan.
- Keputusan ini mencerminkan sikap hati-hati bank sentral di tengah tekanan inflasi dan ketidakpastian global.
- Pelaku pasar dan investor kini menanti sinyal arah kebijakan moneter pada RDG berikutnya, terutama terkait potensi pelonggaran.

Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan pada level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada Rabu (22/7/2026). Keputusan ini sekaligus memupus harapan sebagian pelaku pasar yang memperkirakan adanya pelonggaran moneter di tengah tekanan inflasi domestik yang mulai melandai.
Dalam pengumuman resminya, BI juga mempertahankan suku bunga deposit facility di 4,75% dan suku bunga lending facility di 6,50%. Langkah ini menandai periode penahanan suku bunga yang berkepanjangan sejak kenaikan terakhir pada awal tahun 2025. Keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan stabilitas nilai tukar rupiah dan kebutuhan untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik di tengah ketidakpastian global.
Keputusan BI untuk tidak menurunkan suku bunga menjadi kejutan bagi sebagian analis yang sebelumnya memperkirakan adanya pemangkasan sebesar 25 basis poin. Konsensus pasar yang dihimpun oleh beberapa lembaga keuangan menunjukkan mayoritas ekonom memperkirakan BI akan mulai melonggarkan kebijakan moneternya pada kuartal III-2026 seiring dengan tren penurunan inflasi. Namun, BI tampaknya masih mengutamakan kehati-hatian, terutama mengingat tekanan eksternal dari kebijakan suku bunga tinggi di negara maju dan potensi gejolak pasar keuangan global.
Bagi Indonesia, keputusan ini memiliki implikasi langsung pada sektor perbankan dan pasar modal. Suku bunga yang tinggi masih akan membebani biaya pinjaman korporasi dan konsumen, namun di sisi lain memberikan imbal hasil yang kompetitif bagi investor asing yang mencari yield di pasar obligasi. Stabilitas rupiah menjadi salah satu pertimbangan utama BI, mengingat tekanan depresiasi masih membayangi mata uang negara berkembang. Dengan menahan suku bunga, BI berharap dapat mempertahankan aliran modal masuk dan menekan volatilitas nilai tukar.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati pernyataan resmi BI dan data inflasi bulanan untuk mencari petunjuk arah kebijakan selanjutnya. Jika inflasi terus menunjukkan tren penurunan yang konsisten dan nilai tukar rupiah stabil, bukan tidak mungkin BI akan mempertimbangkan pelonggaran pada RDG berikutnya. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah BI menunggu sinyal yang lebih jelas dari bank sentral AS sebelum mengambil langkah serupa?



