BI Pastikan Perbankan RI Tahan Guncangan Konflik Timur Tengah
Baca dalam 60 detik
- Hasil uji ketahanan Bank Indonesia menunjukkan perbankan nasional memiliki modal kuat dan risiko kredit rendah meskipun konflik AS-Iran memanas.
- Rasio kecukupan modal perbankan mencapai 23,74% pada Mei 2026, jauh di atas ambang aman, sementara kredit macet tetap terkendali.
- Bank Indonesia akan memperkuat kebijakan makroprudensial dan sinergi dengan KSSK untuk menjaga likuiditas dan stabilitas sistem keuangan.

Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang terus berlanjut di Timur Tengah dipastikan tidak akan menggoyahkan fundamental perbankan Indonesia. Bank Indonesia (BI) melalui hasil uji ketahanan (stress test) terbaru menyimpulkan bahwa sektor perbankan nasional memiliki daya tahan yang solid terhadap berbagai skenario risiko, termasuk dampak rambatan konflik tersebut.
Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers, Rabu (22/7/2026), mengungkapkan bahwa ketahanan perbankan ditopang oleh kemampuan bayar dan profitabilitas korporasi yang tetap terjaga baik. "Termasuk dampak rambatan berlanjutnya perang di Timur Tengah," ujarnya. Pernyataan ini menjadi sinyal positif bagi pelaku pasar dan investor yang selama ini khawatir terhadap efek domino eskalasi konflik global terhadap stabilitas sistem keuangan domestik.
Hasil stress test menunjukkan tiga pilar utama ketahanan perbankan berada dalam kondisi prima. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan pada Mei 2026 tercatat tinggi sebesar 23,74%, jauh di atas ambang batas minimum yang ditetapkan regulator. Angka ini memberikan bantalan yang kuat untuk menyerap potensi kerugian dan mendukung ekspansi kredit ke depan. Sementara itu, rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) secara agregat tetap rendah, yaitu 2,17% secara bruto dan 0,84% secara neto, mengindikasikan kualitas aset perbankan yang terjaga.
Meskipun rasio likuiditas industri perbankan yang diukur dari Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) mengalami penurunan dari 24,74% pada Mei 2026 menjadi 23,08% pada Juni 2026, BI menilai level tersebut masih memadai untuk memenuhi kebutuhan dana jangka pendek. Penurunan ini lebih disebabkan oleh peningkatan penyaluran kredit seiring pemulihan ekonomi, bukan karena tekanan likuiditas yang abnormal.
Bagi investor dan pelaku usaha di Indonesia, hasil stress test ini memberikan kepastian bahwa risiko sistemik dari gejolak eksternal masih terkendali. Konflik Timur Tengah yang memicu volatilitas harga minyak dan arus modal global memang menjadi perhatian, namun fundamental perbankan yang kuat menjadi penyangga utama. Perry menegaskan bahwa ke depan BI akan terus memperkuat kebijakan makroprudensial dan sinergi kebijakan bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk menjaga stabilitas sistem keuangan, termasuk menjaga kecukupan likuiditas dan memitigasi segmentasi likuiditas antar-bank.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah sejauh mana eskalasi konflik dapat mempengaruhi kinerja korporasi yang menjadi tulang punggung kemampuan bayar perbankan. Jika ketegangan berkepanjangan dan menekan sektor riil, tekanan terhadap perbankan bisa meningkat. Namun, dengan permodalan yang kuat dan risiko kredit yang rendah, sektor perbankan Indonesia dinilai memiliki ruang yang cukup untuk bernapas.



