Gelombang Panas Jepang: 261 Orang Dilarikan ke Rumah Sakit dalam Sehari
Baca dalam 60 detik
- Tokyo mencatat rekor tertinggi kasus dugaan sengatan panas dalam satu hari sejak 2022, dengan 261 orang dirawat.
- Lonjakan ini dipicu suhu ekstrem hingga 40 derajat Celsius, yang juga menyebabkan satu kematian dan pembatalan pertandingan bisbol.
- Fenomena ini mengingatkan Indonesia akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem akibat perubahan iklim.

Gelombang panas yang melanda Jepang dalam beberapa hari terakhir memicu lonjakan dramatis kasus sengatan panas. Di Tokyo saja, sebanyak 261 orang dilarikan ke rumah sakit pada Selasa (22/7) โ angka tertinggi dalam satu hari sejak pencatatan dimulai pada 2022, menurut Dinas Pemadam Kebakaran Tokyo.
Jumlah tersebut masih bersifat sementara hingga pukul 21.00 waktu setempat, namun sudah melampaui rekor sebelumnya. Tak hanya korban jiwa, beban sistem darurat juga mencapai titik puncak: sebanyak 3.454 panggilan darurat tercatat dalam sehari, tertinggi sejak data pertama kali dikumpulkan pada 1963.
Korban paling rentan adalah kelompok lanjut usia. Dari 261 pasien, 55 orang berusia 80-an, disusul 53 orang berusia 70-an, dan 27 orang berusia 50-an. Seorang pria berusia 84 tahun di Kota Otawara, Prefektur Tochigi, ditemukan pingsan di dalam rumah kaca plastik dan kemudian dinyatakan meninggal dunia akibat dugaan sengatan panas.
Badan Meteorologi Jepang mencatat suhu di pusat Tokyo mencapai 36,4 derajat Celsius pada Selasa. Sementara itu, Rabu (23/7) menjadi hari kedua berturut-turut suhu di sejumlah wilayah mencapai 40 derajat Celsius atau lebih, akibat sistem tekanan tinggi yang menyelimuti hampir seluruh kepulauan Jepang.
Dampak panas ekstrem juga terasa di dunia olahraga. Pertandingan bisbol liga minor antara Lotte Marines dan Orix Buffaloes di Saitama, yang dimulai siang hari, harus dihentikan pada pertengahan inning keempat dan dinyatakan tidak berlaku. Keputusan ini diambil demi keselamatan pemain dan penonton.
Fenomena cuaca ekstrem di Jepang ini menjadi pengingat bagi Indonesia, yang juga kerap dilanda suhu tinggi dan gelombang panas. Meskipun secara geografis berbeda, pola cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim global menuntut kesiapsiagaan serupa. Pemerintah dan masyarakat Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko sengatan panas, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan pekerja di luar ruangan.
Badan cuaca Jepang terus mengimbau masyarakat untuk mengambil tindakan pencegahan, seperti minum air secara teratur, menggunakan pendingin ruangan, dan menghindari aktivitas di luar ruangan pada siang hari. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah negara-negara tropis seperti Indonesia mampu mengadopsi sistem peringatan dini dan respons cepat yang efektif menghadapi ancaman serupa?



