Gelombang Panas Jepang Tembus 40 Derajat Celsius Dua Hari Berturut-turut
Baca dalam 60 detik
- Suhu di Jepang mencapai 40,6 derajat Celsius pada 22 Juli, menandai hari kedua berturut-turut dengan panas ekstrem.
- Sebanyak 243 titik observasi mencatat suhu di atas 35 derajat Celsius, memicu peringatan heatstroke di 41 prefektur.
- Fenomena ini mengingatkan Indonesia akan risiko gelombang panas serupa akibat perubahan iklim global.

Gelombang panas ekstrem kembali melanda Jepang pada 22 Juli, dengan suhu di sejumlah wilayah mencapai 40,6 derajat Celsius untuk hari kedua berturut-turut. Fenomena yang disebut kokushobi atau "hari yang sangat panas" ini memicu kekhawatiran akan dampak kesehatan masyarakat dan infrastruktur di negara tersebut.
Badan Meteorologi Jepang (JMA) mencatat suhu tertinggi terjadi di Kota Kuwana, Prefektur Mie, mencapai 40,6 derajat Celsius pada pukul 14.30 waktu setempat. Sementara itu, Hamamatsu di Prefektur Shizuoka mencatat 40,1 derajat Celsius pada pukul 13.49. Sehari sebelumnya, suhu di atas 40 derajat Celsius juga terpantau di Prefektur Gifu dan Aichi. Hingga pukul 13.00, sebanyak 243 dari 914 titik observasi di seluruh Jepang mencatat suhu di atas 35 derajat Celsius.
Pemerintah Jepang melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan JMA mengeluarkan peringatan dini heatstroke untuk 41 prefektur, mulai dari Fukushima hingga Okinawa. Masyarakat diimbau untuk menggunakan pendingin ruangan secara bijak, serta rutin mengonsumsi cairan dan garam guna mencegah dehidrasi. Peringatan ini menjadi yang terluas dalam beberapa tahun terakhir, mencerminkan intensitas gelombang panas yang tidak biasa.
Fenomena ini menjadi pengingat bagi Indonesia yang juga kerap dilanda suhu ekstrem. Meskipun secara geografis berbeda, perubahan iklim global meningkatkan frekuensi dan intensitas gelombang panas di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, suhu tinggi kerap memicu gangguan kesehatan seperti heatstroke dan dehidrasi, terutama pada kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak. Pemerintah Indonesia pun telah mengeluarkan imbauan serupa saat suhu ekstrem melanda beberapa wilayah pada tahun-tahun sebelumnya.
Menurut para ahli meteorologi, gelombang panas di Jepang kali ini dipicu oleh sistem tekanan tinggi yang kuat dan stagnan di atas Kepulauan Jepang. Kondisi ini diperparah oleh pemanasan global yang membuat suhu rata-rata bumi terus meningkat. "Fenomena seperti ini akan semakin sering terjadi jika emisi gas rumah kaca tidak segera ditekan," ujar seorang analis iklim dari Universitas Tokyo dalam pernyataannya.
Ke depan, Jepang diperkirakan masih akan menghadapi suhu tinggi dalam beberapa hari ke depan. Pertanyaan yang muncul adalah apakah infrastruktur dan sistem kesehatan masyarakat mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan iklim yang semakin ekstrem. Bagi Indonesia, pengalaman Jepang ini bisa menjadi pelajaran berharga dalam menyusun strategi mitigasi dan adaptasi menghadapi gelombang panas di masa mendatang.



