Cholil ERK dan Eka The Brandals Masuk Struktur KontraS: Musik dan Aktivisme Bersatu
Baca dalam 60 detik
- Vokalis Efek Rumah Kaca, Cholil Mahmud, bergabung dalam Badan Pengawas KontraS periode 2026-2030 bersama aktivis dan akademisi.
- Eka Annash dari The Brandals masuk Badan Pengurus, memperkuat wajah baru lembaga HAM dengan latar belakang seni.
- KontraS merombak kepengurusan dengan figur publik dan pegiat HAM, menandai strategi perluasan dukungan publik.

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mengumumkan susunan badan pengawas dan pengurus untuk periode 2026-2030, yang untuk pertama kalinya menghadirkan dua musisi papan atas tanah air: Cholil Mahmud, vokalis Efek Rumah Kaca, dan Eka Annash, vokalis The Brandals. Langkah ini dinilai sebagai upaya KontraS merangkul figur publik guna memperluas basis dukungan terhadap isu hak asasi manusia di Indonesia.
Dalam pengumuman resmi melalui akun Instagram @kontras_update pada 19 Juli 2026, KontraS menyatakan harapan besar agar kepengurusan baru dapat melanjutkan estafet nilai kemanusiaan dan memperjuangkan keadilan bagi korban kekerasan. Badan Pengawas diisi oleh tiga tokoh: Cholil Mahmud, Galuh Wandita, dan Karlina Supeli. Sementara Badan Pengurus dipimpin oleh Yati Andriyani sebagai ketua, dengan anggota Eka Annash, Fatia Maulidiyanti, Putri Kanesia, dan Nining Elitos.
Kehadiran Cholil Mahmud di jajaran pengawas menarik perhatian karena ia dikenal sebagai musisi yang kerap menyuarakan isu sosial-politik melalui karya seni. Sementara itu, Eka Annash yang juga vokalis The Brandals, bergabung di jajaran pengurus. Keduanya bukan nama baru dalam aktivisme; Cholil sebelumnya terlibat dalam berbagai kampanye HAM, dan Eka aktif di gerakan buruh serta isu keadilan sosial.
Di luar unsur musisi, Badan Pengawas juga diperkuat oleh Galuh Wandita, aktivis HAM yang pernah menjadi bagian dari โdewan wargaโ dalam inisiatif Tahun Kebenaran yang mendokumentasikan kekerasan masa lalu Indonesia. Ia turut menyusun laporan โMenemukan Kembali Indonesia: 40 Tahun Kekerasan demi Memutus Rantai Impunitas.โ Sementara Karlina Supeli, filsuf dan astronom, dikenal karena integritasnya dan komitmennya pada kemanusiaan. Ia menjadi perempuan pertama di Indonesia yang meraih gelar sarjana Astronomi dari ITB dan kini mengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.
Di tubuh Badan Pengurus, Yati Andriyani yang juga advokat di firma hukum Andriyani + Hidayat Counsellors at Law (HARA) dan Wakil Ketua AFAD (The Asian Federation Against Involuntary Disappearances) memimpin. Fatia Maulidiyanti, mantan koordinator KontraS, memiliki pengalaman lebih dari satu dekade sebagai peneliti dan advokat internasional. Bersama Haris Azhar, ia pernah berhadapan dengan kasus hukum yang diajukan oleh mantan Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan, dan berhasil memenangkan perkara tersebut. Putri Kanesia, Koordinator Advokasi Regional di Asia Justice and Rights (AJAR), sebelumnya pernah menjabat Wakil Koordinator Bidang Advokasi KontraS hingga 2020. Nining Elitos, pegiat buruh yang kini menjabat Koordinator Dewan Buruh Nasional dan mantan Ketua Umum Konfederasi KASBI, melengkapi jajaran pengurus.
Masuknya figur publik seperti Cholil dan Eka ke dalam struktur KontraS mencerminkan strategi organisasi untuk menjembatani gerakan HAM dengan dunia seni dan budaya. Di tengah tantangan kebebasan berpendapat dan kasus kekerasan yang masih terjadi, keterlibatan musisi dapat memperkuat narasi kemanusiaan di ruang publik. Pertanyaan yang muncul: apakah langkah ini akan cukup untuk mendorong perubahan kebijakan yang lebih berpihak pada korban pelanggaran HAM di Indonesia?



