Patson Daka: Dari Mitra Haaland di Salzburg ke Ujung Tombak Baru Hamburg
Baca dalam 60 detik
- Penyerang Zambia Patson Daka resmi bergabung dengan Hamburg setelah dilepas Leicester City pasca dua degradasi beruntun.
- Daka pernah menjadi tandem Erling Haaland di Salzburg dengan koleksi 40 gol dalam satu musim, membuktikan ketajamannya di level tertinggi.
- Kedatangan Daka diharapkan memperkuat lini depan Hamburg yang tengah berambisi kembali ke Bundesliga.

Patson Daka, penyerang asal Zambia berusia 27 tahun, resmi menjadi amunisi baru Hamburg setelah dilepas Leicester City pada Mei lalu. Dengan pengalaman di tiga liga berbeda dan rekor gol yang impresif, kehadirannya menjadi sinyal ambisi klub promosi ke Bundesliga.
Karier Daka dimulai di Zambia Super League, di mana ia dinobatkan sebagai Pemain Muda Terbaik 2016. Performa itu membawanya ke Eropa, tepatnya ke Liefering, klub afiliasi Red Bull Salzburg. Setahun kemudian, ia naik ke tim utama Salzburg dan langsung menjadi mesin gol. Dalam 82 penampilan liga, Daka mencetak 54 gol, termasuk 27 gol di musim 2020/21 yang mengantarnya menjadi pencetak gol terbanyak dan Pemain Terbaik Austria. Ia juga mencatatkan sejarah sebagai pemain Zambia pertama yang mencetak gol di fase grup Liga Champions.
Kesuksesan di Austria membuat Leicester City memboyongnya dengan kontrak lima tahun pada 2021. Di Inggris, Daka tetap produktif dengan 22 gol liga dan menjadi pencetak gol terbanyak klub di kompetisi Eropa. Namun, dua degradasi berturut-turut—termasuk musim lalu—memaksanya hengkang setelah kontraknya tidak diperpanjang.
Di level internasional, Daka juga tajam. Dengan 22 gol dalam 57 laga, ia menempati peringkat ketujuh pencetak gol terbanyak sepanjang masa Zambia. Gaya bermainnya yang eksplosif, kecepatan, dan pergerakan tanpa bola dianggap mirip dengan Lois Openda, mantan penyerang RB Leipzig. Direktur Olahraga Hamburg, Claus Costa, memuji kualitas Daka: "Ia memiliki energi, kecepatan, dan pergerakan di belakang yang memberi kami opsi lebih dalam pressing dan transisi." Mantan pelatih Zambia, Avram Grant, juga menyanjungnya sebagai "pencetak gol alami" dengan karakter spesial.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perjalanan Daka menjadi contoh bagaimana pemain Afrika bisa menembus kompetisi elite Eropa. Kisahnya juga relevan dengan meningkatnya minat terhadap pemain Afrika di Liga Indonesia, di mana beberapa klub mulai merekrut pemain asal benua hitam. Keberhasilan Daka di Austria dan Inggris bisa menjadi inspirasi bagi pesepak bola muda Tanah Air yang bercita-cita berkarier di Eropa.
Dengan bergabungnya Daka, Hamburg yang kini berlaga di 2. Bundesliga berharap bisa segera kembali ke kasta tertinggi. Pertanyaannya, mampukah Daka mengulang ketajamannya seperti saat bersama Haaland dan membawa Hamburg promosi? Atau justru ia akan kembali mengalami degradasi seperti di Leicester? Musim depan akan menjadi jawabannya.



