Konflik AS-Iran Kian Memanas, Harga Minyak Meroket ke Level Tertinggi Enam Pekan
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak mentah Brent dan WTI melonjak lebih dari 2% setelah serangan AS ke Iran selama 11 malam berturut-turut memicu kekhawatiran gangguan pasokan global.
- Ancaman Houthi terhadap kapal tanker di Selat Bab el-Mandeb memaksa pengalihan rute melalui Terusan Suez, menambah biaya dan waktu tempuh pengiriman minyak ke Asia.
- Gangguan juga terjadi di Laut Hitam akibat serangan drone Ukraina pada terminal minyak Kazakhstan, berpotensi memangkas produksi negara tersebut.

Harga minyak mentah dunia kembali menembus level tertinggi dalam enam pekan terakhir pada Rabu (22/7/2026), dipicu eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang kian tak terkendali. Serangan udara AS ke sasaran militer Iran yang berlangsung selama 11 malam berturut-turut, ditambah ancaman blokade laut oleh milisi Houthi, membuat pasar energi global berada dalam ketidakpastian tinggi.
Brent crude tercatat naik 1,84 dolar AS (2%) menjadi 92,85 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melonjak 1,67 dolar AS (2%) ke posisi 86,01 dolar AS. Keduanya merupakan level tertinggi sejak pertengahan Juni. Lonjakan ini terjadi setelah sehari sebelumnya harga minyak sudah bertengger di puncak lima pekan, menyusul serangan balasan Iran terhadap fasilitas militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania.
Yang membuat situasi kian genting, milisi Houthi yang didukung Iran membuka front baru dengan mengancam akan menargetkan kapal-kapal pengangkut minyak Saudi di Selat Bab el-Mandeb dan mendeklarasikan blokade laut terhadap Arab Saudi. Selat sempit di ujung selatan Laut Merah itu kini menjadi jalur krusial bagi ekspor minyak Saudi, terutama setelah lalu lintas di Selat Hormuz merosot tajam sejak gencatan senjata AS-Iran runtuh awal bulan ini.
Dampak langsung dari ancaman ini sudah terlihat. Tiga kapal tanker raksasa yang membawa minyak mentah Saudi untuk pelanggan di China dan India dilaporkan memutar balik di Laut Merah pada Selasa (21/7) dan memilih menyusuri Terusan Suez, alih-alih melewati perairan Yaman. Strategi ini, menurut analis komoditas ING, akan menambah waktu tempuh dan biaya pengiriman secara signifikan ke pasar Asia. โIni memaksa kapal tanker masuk dan keluar Laut Merah melalui Terusan Suez, menambah waktu dan biaya perjalanan ke Asia,โ ujar tim strategis ING dalam catatan risetnya.
Gangguan pasokan tidak hanya terjadi di Timur Tengah. Di kawasan Laut Hitam, Caspian Pipeline Consortium (CPC) menghentikan sementara pemuatan minyak dari Kazakhstan setelah terminalnya diserang drone yang diduga milik Ukraina. Serangan pada Senin (20/7) itu melumpuhkan aktivitas bongkar muat kapal tanker. Ukraina belum memberikan komentar resmi. ING memperingatkan bahwa semakin lama penghentian ini berlangsung, semakin besar kemungkinan Kazakhstan harus memangkas produksi hulunya.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak mentah global ini menjadi sinyal waspada. Sebagai negara pengimpor minyak netto, setiap lonjakan harga akan membebani anggaran subsidi energi dan berpotensi mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak dalam negeri. Pemerintah perlu mengantisipasi tekanan inflasi dan menyiapkan skenario diversifikasi pasokan, mengingat sebagian besar impor minyak Indonesia berasal dari Timur Tengah. Jika konflik berkepanjangan, bukan tidak mungkin Indonesia harus mencari alternatif dari Afrika atau Amerika Latin dengan biaya lebih tinggi.
Di sisi lain, data dari American Petroleum Institute (API) menunjukkan bahwa stok minyak mentah dan distilat AS justru meningkat pekan lalu, sementara persediaan bensin menurun. Angka resmi dari Energy Information Administration (EIA) AS dijadwalkan dirilis Rabu waktu setempat. Namun, sentimen pasar saat ini lebih didominasi oleh risiko geopolitik ketimbang fundamental pasokan jangka pendek.
Pertanyaan besarnya, sejauh mana eskalasi ini akan berlanjut? Belum ada tanda-tanda de-eskalasi dari kedua belah pihak. Jika serangan balasan terus berlangsung dan jalur pelayaran utama lumpuh, harga minyak berpotensi menembus 100 dolar AS per barel dalam waktu dekat. Bagi negara-negara konsumen seperti Indonesia, ini bukan sekadar angka di papan bursa, melainkan ancaman nyata terhadap stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat.



