Tes Darah Mendadak untuk Semua Pembalap Tour de France 2026: Langkah Tegas Anti-Doping
Baca dalam 60 detik
- Seluruh pembalap yang tersisa di Tour de France 2026 menjalani tes darah tambahan sebagai bagian dari program Biological Passport yang diperketat.
- Langkah ini memicu kekhawatiran sejumlah tim karena pengambilan sampel dilakukan di luar jam normal, mengganggu waktu istirahat atlet.
- Pengawasan ketat ini menjadi sorotan di Indonesia, mengingat semakin banyak atlet Tanah Air yang berkompetisi di level internasional dan menghadapi regulasi serupa.

Thonon-les-Bains, Prancis โ Seluruh pembalap yang masih bertahan di Tour de France 2026 menjalani tes darah pada Senin (21/7) sebagai bagian dari program Athlete Biological Passport (ABP) yang komprehensif, demikian diumumkan International Testing Agency (ITA) pada Selasa (22/7). Langkah ini menandai eskalasi pengawasan anti-doping di ajang balap sepeda paling bergengsi di dunia, di tengah kekhawatiran akan gangguan terhadap pemulihan atlet.
Dalam pernyataan resmi yang mengonfirmasi laporan harian Prancis Libรฉration, ITA menjelaskan bahwa misi ini melengkapi pengujian standar sebelum kompetisi yang dilakukan pada semua pembalap beberapa hari menjelang Grand Depart serta pengujian yang sudah berlangsung selama balapan. โPengambilan sampel darah tambahan memungkinkan ITA menilai variasi penanda hematologis yang relevan dan memperkuat pemantauan longitudinal profil individu setiap pembalap,โ tulis ITA.
Biological Passport, yang diperkenalkan pada 2008 di dunia balap sepeda, bekerja dengan memantau variabel biologis tertentu dari waktu ke waktu untuk mendeteksi perubahan yang mungkin mengindikasikan efek doping. Pendekatan ini dianggap lebih canggih dibandingkan tes doping konvensional karena mampu menangkap fluktuasi abnormal tanpa harus mendeteksi zat terlarang secara langsung.
Pengujian tahap terbaru ini dilakukan pada jam standar, menurut sebagian besar tim. Namun, pengumuman ini muncul sehari setelah dua kandidat kuat juara, Tadej Pogacar (Slovenia) dan Jonas Vingegaard (Denmark), dibangunkan pada Minggu dini hari untuk tes mendadak menjelang etape ke-15. Praktik serupa juga dialami Matej Mohoric dari Bahrain Victorious, yang kepada media Slovenia mengaku menjalani tes anti-doping pukul 05.00 selama Tour de France tahun ini, tanpa merinci tanggalnya.
Kebijakan tes dadakan ini menuai kritik dari sejumlah tim karena dianggap mengganggu waktu tidur dan pemulihan atlet. Dalam olahraga sepeda, pemulihan yang optimal sangat krusial mengingat intensitas balapan yang ekstrem selama tiga pekan. Gangguan tidur dapat mempengaruhi performa dan meningkatkan risiko cedera. Meski demikian, ITA menegaskan bahwa langkah ini diperlukan untuk menjaga integritas kompetisi dan melindungi atlet yang bersih.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat semakin banyak atlet Tanah Air yang berkiprah di kancah internasional, termasuk di cabang olahraga yang menerapkan pengawasan anti-doping ketat. Federasi Olahraga Sepeda Indonesia (FOSI) dan Komite Anti-Doping Indonesia (KADI) dapat menjadikan pendekatan Biological Passport sebagai acuan untuk memperkuat sistem pengawasan doping di dalam negeri. Selain itu, atlet Indonesia yang berlaga di ajang multievent seperti SEA Games atau Asian Games perlu mewaspadai kemungkinan tes serupa di luar jam kompetisi.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana keseimbangan antara upaya pemberantasan doping dan hak atlet atas istirahat yang layak dapat dijaga. Apakah ITA akan mempertimbangkan pedoman yang lebih ketat mengenai waktu pengujian, atau justru memperluas praktik tes dadakan ke ajang olahraga lainnya? Yang jelas, Tour de France 2026 menjadi ajang uji coba bagi pendekatan yang lebih agresif dalam memerangi doping, dan hasilnya akan diawasi ketat oleh komunitas olahraga global.



