Gunung Anak Krakatau Erupsi Terus-Menerus, Intensitas Tertinggi Sepanjang 2026: Warga Pesisir Diminta Tenang
Baca dalam 60 detik
- Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau mencapai rekor tertinggi tahun ini dengan erupsi menerus sejak Jumat malam.
- Status gunung tetap Siaga Level III, namun potensi tsunami dinilai sangat kecil oleh para ahli.
- Kerusakan alat pemantau akibat material erupsi menjadi kendala dalam pengawasan visual gunung.

Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mencatatkan rentetan erupsi dengan intensitas paling tinggi sepanjang 2026, mengguncang wilayah pesisir Banten dan Lampung dengan dentuman yang terdengar hingga puluhan kilometer. Fenomena ini, yang berlangsung sejak Jumat (4/9) malam, memicu kekhawatiran warga namun para ahli memastikan potensi tsunami sangat kecil.
Pengamat Gunung Api Anak Krakatau, Muhammad Dika Nurzaman, mengungkapkan bahwa erupsi tersebut terindikasi sebagai pancaran lava atau lava fountain yang dimulai pukul 23.07 WIB. Getaran letusan tercatat memiliki amplitudo maksimum 70 milimeter dengan durasi mencapai 21.600 detik, menjadikannya rangkaian letusan terkuat sejak status siaga diberlakukan pada 2 Juli 2026.
"Sejak penetapan status siaga, gunung ini telah mengalami lebih dari 240 kali letusan. Namun, rangkaian kali ini berbeda karena sumbernya berasal dari kantong magma gunung itu sendiri, sehingga tidak memicu aktivitas gunung api lain di Indonesia," jelas Dika saat dihubungi dari Serang, Sabtu (5/9).
Dentuman keras yang dirasakan warga pesisir, menurut Dika, merupakan suara erupsi yang merambat melalui udara, bukan akibat gempa bumi atau pergerakan tanah. Meski demikian, suara gemuruh tersebut cukup mengganggu dan memicu kepanikan di sejumlah wilayah, seperti yang dilaporkan dari tiga provinsi sebelumnya.
Kendala teknis muncul dalam pemantauan visual. Sejumlah peralatan, termasuk kamera CCTV di sekitar kawah, diduga rusak akibat terpapar material erupsi. Pantauan terakhir pada pukul 01.00 WIB sempat merekam semburan lava, namun setelah itu data visual terputus. "Secara fisik hingga siang ini kami belum bisa memantau secara optimal karena kerusakan alat," ungkap Dika.
Meskipun intensitas erupsi tinggi, pihak berwenang tidak menaikkan status Gunung Anak Krakatau yang tetap berada di Level III atau Siaga. Dika menegaskan bahwa potensi tsunami sangat kecil, bahkan bisa dikatakan tidak ada, mengingat tubuh gunung yang relatif kecil. "Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak panik, dan menjauh dari gunung dalam radius tiga kilometer," tegasnya.
Bagi warga pesisir Banten dan Lampung, kejadian ini menjadi pengingat akan keganasan alam yang pernah tercatat dalam sejarah letusan Krakatau 1883. Namun, perkembangan teknologi pemantauan saat ini memungkinkan deteksi dini yang lebih baik, meski tantangan kerusakan alat tetap menjadi pekerjaan rumah.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana ketahanan infrastruktur pemantauan gunung api di Indonesia menghadapi erupsi berkepanjangan? Dengan frekuensi letusan yang terus meningkat, investasi pada peralatan tahan panas dan sistem cadangan menjadi krusial untuk memastikan keselamatan masyarakat di sekitar kawasan rawan bencana.



