BMKG Perkuat Modifikasi Cuaca untuk Redam Karhutla di Kalbar-Kalteng, Hujan Buatan Mulai Menunjukkan Hasil
Baca dalam 60 detik
- BMKG mengerahkan analisis cuaca real-time untuk mendukung penyemaian awan di lahan gambut Kalbar-Kalteng, dengan 37 sortie penerbangan dan 32,6 ton garam ditebar hingga awal September.
- Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) terbukti memicu hujan di sejumlah kabupaten/kota, mendorong pemerintah memperpanjang operasi hingga 14 September dengan dana dari Kemenhut dan BNPB.
- Langkah ini menandai pergeseran strategi penanggulangan karhutla dari pemadaman reaktif menuju pencegahan berbasis data, yang bisa menjadi model nasional.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengintensifkan pemantauan atmosfer secara langsung untuk memastikan operasi penyemaian awan berjalan efektif dalam membasahi lahan gambut yang terbakar di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya titik panas dan kabut asap yang mengganggu kualitas udara di dua provinsi tersebut.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menegaskan bahwa akurasi data cuaca menjadi penentu utama keberhasilan intervensi. "Penyemaian awan difokuskan pada area gambut yang terdeteksi hotspot, dengan tujuan mengurangi titik panas sekaligus memperbaiki udara yang diselimuti asap," ujarnya di Jakarta, Sabtu. Data radar cuaca dari Posko OMC di Pangkalan Udara Supadio, Kubu Raya, menjadi acuan bagi armada udara untuk menentukan rute penaburan garam.
Sepanjang 22 Agustus hingga 4 September 2026, OMC di Kalimantan Barat telah menerbangkan 27 sortie dengan menaburkan 24.600 kilogram garam murni (NaCl) di ketinggian 6.000โ10.000 kaki. Intervensi ini dilaporkan memicu hujan di Putussibau, Kubu Raya, hingga Pontianak. Sementara itu, di Kalimantan Tengah, operasi yang berlangsung 26 Agustusโ5 September mencatat 10 sortie dengan 8.000 kilogram NaCl, menghasilkan hujan ringan hingga sedang di Murung Raya, Barito Utara, Kotawaringin Barat, Kapuas, Lamandau, dan Barito Selatan.
Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menyebut hasil positif ini terlihat dari meningkatnya kelembapan tanah gambut dan menipisnya kabut asap. Pemerintah pun memperpanjang OMC di kedua provinsi hingga 14 September 2026, dengan pembiayaan dari Kementerian Kehutanan dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Integrasi analisis meteorologi dalam OMC, menurut Harsoyo, menandai perubahan pendekatan dari pemadaman reaktif menuju pencegahan dini yang lebih terukur dan melibatkan banyak kementerian.
Bagi Indonesia, keberhasilan OMC ini bukan sekadar teknis. Dengan luas lahan gambut yang rentan terbakar, terutama saat El Nino, strategi berbasis data seperti ini dapat menekan kerugian ekonomi dan kesehatan yang kerap muncul akibat kabut asap lintas batas. Namun, efektivitas jangka panjang tetap bergantung pada konsistensi pendanaan dan koordinasi antarlembaga.
Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah model OMC yang terintegrasi dengan analisis cuaca real-time ini akan diadopsi secara permanen dalam rencana kontingensi karhutla nasional, atau hanya menjadi solusi musiman saat krisis? Jawabannya akan menentukan apakah Indonesia mampu keluar dari siklus kebakaran tahunan yang selama ini menjadi momok bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat.



