Kurir Gojek Sastra: Pengantar Makanan Raih Penghargaan Sastra Tertinggi China
Baca dalam 60 detik
- Wang Jibing, kurir pengantar makanan berusia 56 tahun, memenangkan Lu Xun Literary Prize untuk kumpulan puisinya.
- Karya-karyanya menggambarkan perjuangan dan harapan para pekerja pengiriman, menyentuh hati publik China.
- Kemenangan ini menandai kebangkitan sastra dari kalangan buruh di China, menginspirasi pekerja serupa di Indonesia.

Seorang pengantar makanan berusia 56 tahun dari Jiangsu, China, berhasil meraih penghargaan sastra paling bergengsi di negeri itu, Lu Xun Literary Prize, untuk kumpulan puisinya yang berjudul Low Flight. Wang Jibing, yang sehari-hari mengayuh sepeda motor mengantarkan pesanan, menulis puisi di sela-sela tugasnya, menyuarakan kehidupan para pekerja pengiriman yang kerap luput dari perhatian.
Kumpulan puisi Low Flight dinobatkan sebagai yang terbaik dalam kategori puisi oleh China Writers Association pada 15 Juli lalu. Dalam proses penciptaannya, Wang mewawancarai lebih dari 140 rekannya sesama kurir dan mengumpulkan lebih dari 60 kuesioner, seperti dilaporkan oleh stasiun televisi pemerintah CCTV. "Dengan bahasa yang sederhana namun tulus, kumpulan ini memberikan potret hidup tentang dunia batin para pekerja pengiriman, mengungkapkan ketahanan dan harapan dalam kehidupan biasa," demikian pujian dari CCTV.
Puisi judul Low Flight dibuka dengan baris: "Siapa bilang melebarkan sayap berarti harus terbang tinggi? Terbang rendah tetaplah terbang." Baris lain menggambarkan tekanan waktu yang dihadapi kurir: "Orang yang terburu-buru, memeras 61 menit dari satu jam." Sekitar 84 juta orang di China bekerja dalam bentuk pekerjaan baru seperti kurir dan pengemudi ojek daring.
Latar belakang Wang penuh perjuangan. Lahir dari keluarga petani di Xuzhou, ia putus sekolah saat remaja karena kesulitan ekonomi dan bekerja serabutan dari konstruksi hingga pemulung. Kecintaannya pada membaca tak pernah padam. Ia bergabung sebagai kurir pada 2019 di Kunshan, dan sejak itu menulis puisi yang terinspirasi dari pengalaman di jalan. "Saya berharap setelah membaca, orang akan lebih memahami dan sabar terhadap kurir, dan akan ada lebih sedikit konflik," kata Wang kepada media China.
Wang menegaskan akan terus bekerja sebagai kurir setidaknya tiga tahun ke depan, hingga usianya 60 tahun. "Secara finansial, saya tidak perlu melakukan pekerjaan ini untuk mencari nafkah, tetapi saya menyukai suasana kerjanya dan ini membuat saya tetap bugar," ujarnya kepada Global Times. "Saya ingin menjalani kehidupan yang membumi, dan penghargaan ini tidak akan mengubah siapa saya. Saya akan terus menulis dan berbagi kisah hidup orang biasa melalui sastra."
Kemenangan Wang menjadi viral di media sosial China, dengan komentar seperti "Dari mengantar makanan hingga diakui karena puisi yang tulus" dan "Kemenangan yang sangat layak". Fenomena ini merupakan bagian dari gerakan yang lebih besar di China: para pekerja kerah biru mulai menorehkan prestasi di dunia sastra. Sebelumnya, memoar I Deliver Parcels in Beijing karya mantan kurir Hu Anyan menjadi laris manis secara global. Ada pula Chen Nianxi, mantan penambang, dan Yu Xiuhua, mantan petani, yang karyanya diakui luas.
Bagi Indonesia, kisah Wang relevan dengan jutaan pengemudi ojek dan kurir daring yang menjadi tulang punggung ekonomi digital. Meskipun belum ada figur sastra dari kalangan mereka yang seterkenal Wang, fenomena ini membuka peluang bagi lahirnya karya-karya yang merekam realitas pekerja informal. Akankah muncul Wang Jibing dari Indonesia yang mampu menyuarakan perjuangan para pekerja lewat puisi? Waktu yang akan menjawab, namun benihnya sudah ada.



