Konflik AS-Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Kembali Terdongkrak
Baca dalam 60 detik
- Serangan militer AS ke Iran yang berlangsung 11 malam berturut-turut memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak global.
- Brent dan WTI naik tipis di tengah volume perdagangan rendah, setelah sebelumnya mencapai level tertinggi lima pekan.
- Ancaman blokade jalur Bab el-Mandeb oleh Houthi menambah risiko bagi ekspor minyak Arab Saudi dan stabilitas harga.

Harga minyak mentah dunia kembali menanjak pada perdagangan awal pekan ini setelah Amerika Serikat melanjutkan serangan ke sasaran militer Iran untuk malam ke-11, sementara Kuwait melaporkan adanya serangan drone dari pasukan Iran. Eskalasi di Timur Tengah ini memicu kekhawatiran baru akan terganggunya rantai pasok energi global.
Brent crude futures naik 0,55 persen atau 50 sen menjadi 91,51 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 0,36 persen atau 30 sen ke posisi 84,64 dolar AS. Volume perdagangan terpantau rendah, namun pergerakan ini melanjutkan tren positif setelah harga minyak menyentuh level tertinggi dalam lima pekan pada Selasa lalu.
Kekhawatiran akan gangguan pasokan kian nyata setelah kelompok Houthi yang beraliansi dengan Iran membuka front baru dengan mengancam akan menargetkan kapal-kapal pengangkut minyak Arab Saudi di Selat Bab el-Mandeb. Mereka bahkan mendeklarasikan blokade laut terhadap Arab Saudi. Jalur air di pintu masuk selatan Laut Merah itu kini menjadi rute krusial bagi ekspor minyak Saudi, terutama setelah lalu lintas melalui Selat Hormuz merosot tajam akibat runtuhnya gencatan senjata AS-Iran awal bulan ini.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengungkapkan bahwa perang di Iran telah menghabiskan biaya sebesar 37,5 miliar dolar AS, meningkat hampir 8 miliar dolar dari estimasi publik sebelumnya. Angka ini menunjukkan betapa mahalnya operasi militer yang berlangsung, dan belum termasuk potensi dampak ekonomi dari volatilitas pasar energi.
Di sisi lain, data dari American Petroleum Institute (API) menunjukkan bahwa stok minyak mentah dan distilat AS mengalami kenaikan pekan lalu, sementara persediaan bensin justru menurun. Data resmi dari Energy Information Administration (EIA) AS dijadwalkan dirilis pada Rabu waktu setempat. Kombinasi antara ketegangan geopolitik dan data inventori ini akan menjadi penentu arah harga dalam jangka pendek.
Konteks Indonesia: Kenaikan harga minyak dunia berpotensi membebani anggaran subsidi energi Indonesia. Pemerintah telah mengalokasikan subsidi BBM dan LPG dalam jumlah besar, dan setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS per barel dapat menambah beban subsidi hingga triliunan rupiah. Selain itu, risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah juga mengingatkan pentingnya diversifikasi sumber impor minyak dan pengembangan energi terbarukan di dalam negeri.
Ke depan, pasar akan mencermati apakah eskalasi militer akan berlanjut atau ada ruang untuk de-eskalasi. Jika konflik meluas hingga mengganggu jalur pelayaran utama seperti Bab el-Mandeb atau Selat Hormuz, harga minyak bisa melonjak lebih tinggi lagi. Pertanyaan besarnya: sejauh mana negara-negara konsumen, termasuk Indonesia, siap menghadapi gejolak harga energi yang berkepanjangan?



