Pramono Anung Minta Maaf Baru Tahu SDN Kebayoran Lama Roboh Dua Tahun, Janji Bangun Ulang
Baca dalam 60 detik
- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengakui tidak mengetahui kondisi SDN Kebayoran Lama Selatan 09 Pagi yang roboh sejak 2024, dan meminta maaf kepada publik.
- Pemerintah Provinsi DKI berencana membangun kembali sekolah tersebut dengan alternatif pendanaan di luar APBD, seperti CSR atau dana KLB.
- Selain satu sekolah yang viral, terdapat 22 sekolah lain di Jakarta yang membutuhkan perbaikan serupa dan akan ditangani secara bertahap.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan permintaan maaf secara terbuka setelah mengaku baru mengetahui bahwa SDN Kebayoran Lama Selatan 09 Pagi, Jakarta Selatan, telah roboh sejak 2024. Kondisi ini membuat 200-an siswa terpaksa menumpang di sekolah tetangga dan belajar pada siang hari selama dua tahun terakhir.
"Kemarin ketika ditanya teman-teman media mengenai SD Negeri yang roboh di Kebayoran Lama, terus terang itu pertama kali saya mendengar. Saya adalah orang yang menjawab apa adanya. Mohon maaf saya tidak tahu pada waktu itu," kata Pramono di Balai Kota Jakarta, Rabu (22/7/2026). Setelah menerima informasi tersebut, ia langsung membahasnya dalam rapat bersama jajaran dan memerintahkan kunjungan lapangan untuk melihat kondisi riil sekolah.
Pramono menegaskan bahwa pembangunan kembali sekolah harus segera dilakukan demi kenyamanan kegiatan belajar-mengajar. Ia membuka opsi pendanaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) maupun sumber lain seperti dana Corporate Social Responsibility (CSR) atau Kerja Sama Lembaga dan Badan (KLB). "Kalau memang belum ada dana dari APBD, maka dibuka ruang apakah dari KLB atau CSR atau dari manapun. Yang penting harus segera dibangun," ujarnya.
Wakil Gubernur Rano Karno dijadwalkan mengumpulkan seluruh jajaran Dinas Pendidikan Jakarta untuk membahas sekolah-sekolah yang membutuhkan bantuan di ibu kota. Pramono menekankan perlunya keterbukaan dalam menangani persoalan ini. "Tidak perlu menutup-nutupi. Saya bilang nggak. Harus terbuka apa adanya. Itulah karakter Pemerintah Jakarta untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang ada," tegasnya.
Orang tua siswa, Evi Afrida, mengungkapkan keluhan terkait jam belajar siang yang mengganggu aktivitas keagamaan anak-anak. "Karena kan sekarang masuknya siang, jadi anak-anak yang tadinya ngaji sekarang jarang yang ngaji. Sudah dua tahun tidak ngaji lagi gitu. Kan ngajinya itu di sore, habis asar biasanya kan. Kita kan di sini pulang sekolahnya jam 5, dari jam 1 sampai jam 5. Jadinya anak-anak di sore itu ya sudah untuk aktivitas agama jadinya nggak nyaman," keluhnya. Kondisi ini memperlihatkan dampak berantai dari keterlambatan penanganan infrastruktur pendidikan.
Pramono menyebut bahwa pemerintah tidak hanya akan fokus pada sekolah yang viral, tetapi juga 22 sekolah lain yang membutuhkan perbaikan. "Bukan hanya yang viral kemarin, tetapi di tempat yang lain, 22 yang ada, segera akan kami selesaikan," katanya. Pertanyaan yang muncul kemudian: apakah janji ini akan ditindaklanjuti dengan cepat, atau akan kembali terbenam dalam birokrasi? Publik menanti realisasi komitmen tersebut, terutama bagi ribuan siswa yang terdampak.



