Rupiah Terpuruk ke Rp17.920, BI Siap Naikkan Suku Bunga?
Baca dalam 60 detik
- Rupiah dibuka melemah 0,22% ke Rp17.920/US$ di tengah eskalasi konflik Timur Tengah dan antisipasi keputusan suku bunga BI.
- Mayoritas ekonom memproyeksikan BI Rate naik 25 bps ke 6,00% hari ini untuk menahan tekanan terhadap rupiah.
- Ketegangan geopolitik dan kenaikan harga minyak memperkuat dolar AS, membebani mata uang emerging market termasuk rupiah.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali tertekan pada pembukaan perdagangan Rabu (22/7/2026), menyentuh level Rp17.920/US$ atau melemah 0,22% dari posisi sebelumnya. Pelemahan ini terjadi di tengah ketidakpastian global yang dipicu konflik berkepanjangan di Timur Tengah serta keputusan suku bunga Bank Indonesia yang akan diumumkan siang nanti.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka di Rp17.920/US$, membalikkan penguatan 0,28% yang tercatat pada perdagangan Selasa (21/7) di Rp17.880/US$. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah tipis 0,02% ke 101,161, setelah menguat 0,22% sehari sebelumnya. Meski DXY sedikit turun, tekanan terhadap rupiah tetap besar karena faktor eksternal dan domestik.
Dari eksternal, konflik di Timur Tengah kembali memanas setelah militer AS melancarkan serangan terhadap Iran selama sepuluh malam berturut-turut. Dua kapal tanker minyak Arab Saudi yang menuju Asia dilaporkan berbalik arah di Laut Merah akibat ancaman kelompok Houthi Yaman. Gangguan jalur pelayaran ini mendorong harga minyak mentah Brent menembus US$90,90 per barel, tertinggi sejak Juni 2026, sementara minyak AS naik 2,09% ke US$84,97 per barel.
Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi global yang lebih persisten, sehingga memperkuat ekspektasi bahwa The Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga. Beberapa pejabat The Fed, termasuk Ketua Kevin Warsh, telah mengingatkan risiko tekanan harga yang masih tinggi. Situasi ini membuat dolar AS tetap perkasa terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Di dalam negeri, perhatian tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang akan diumumkan siang ini. Polling terhadap 14 institusi menunjukkan mayoritas (8 responden) memperkirakan BI Rate naik 25 basis poin dari 5,75% menjadi 6,00%, sementara 6 lainnya memproyeksikan suku bunga tetap. Jika kenaikan terjadi, ini akan menjadi pengetatan keempat sepanjang 2026, setelah BI mengakumulasi kenaikan 100 bps sejak Mei.
Ekonom CIMB Niaga Mika Martumpal menilai kenaikan suku bunga diperlukan untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah risiko geopolitik yang memanas. Senada, Chief Economist Valbury Asia Futures Fikri C. Permana menambahkan bahwa volatilitas rupiah yang tinggi, ekspektasi kenaikan Fed Rate, dan kebutuhan menarik arus modal menjadi alasan utama pengetatan moneter.
Bagi investor dan pelaku pasar Indonesia, keputusan BI hari ini akan menjadi sinyal penting. Jika BI menaikkan suku bunga, rupiah berpotensi stabil, namun risiko perlambatan ekonomi tetap mengintai. Sebaliknya, jika suku bunga ditahan, tekanan terhadap rupiah bisa berlanjut, terutama jika konflik Timur Tengah semakin eskalatif. Pertanyaannya, seberapa jauh BI bersedia mengetatkan kebijakan demi menjaga nilai tukar?



