Tekanan Global dan Aksi Jual Asing Hantam IHSG ke Level 6.196
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles 1,88% ke 6.196,43 pada Jumat (24/7) seiring aksi jual besar-besaran di saham perbankan dan komoditas.
- Investor asing mencetak penjualan bersih Rp759,46 miliar, dengan PT Bank Mandiri (BMRI) menjadi sasaran utama jual asing senilai Rp386,06 miliar.
- Tekanan pasar diperburuk kebijakan tarif baru AS sebesar 10-12,5% terhadap 60 mitra dagang, termasuk Indonesia, serta lonjakan harga minyak Brent di atas US$100 per barel.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup terperosok 1,88% atau 117 poin ke level 6.196,43 pada perdagangan Jumat (24/7/2026), membukukan pelemahan terdalam dalam sepekan terakhir. Aksi jual masif di saham-saham berkapitalisasi besar, terutama perbankan, menjadi pemicu utama koreksi ini di tengah sentimen global yang kian mencekam.
Tekanan berasal dari dua arah: kebijakan tarif impor anyar Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menjerat 60 mitra dagang, termasuk Indonesia, dan lonjakan harga minyak Brent yang menembus US$100,69 per barelโlevel tertinggi dalam dua bulan terakhir. Kombinasi ini memicu aksi lepas saham oleh investor asing yang mencapai Rp759,46 miliar di seluruh pasar sepanjang sesi pertama.
Data Stockbit Sekuritas menunjukkan nilai transaksi asing mencapai Rp6,54 triliun, dengan jual bersih terbesar terjadi pada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) sebesar Rp386,06 miliar. PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) juga tidak luput dari tekanan jual, masing-masing dilego Rp142,89 miliar dan Rp123,37 miliar.
Seluruh sektor tanpa terkecuali melemah. Saham-saham unggulan seperti BMRI, AMMN, BREN, BRPT, BRMS, dan BUMI menjadi pemberat utama indeks. Dari total saham yang diperdagangkan, 587 saham turun, 104 naik, dan 105 stagnan, mencerminkan dominasi sentimen negatif.
Dari sisi global, penerapan tarif baru AS sebesar 10-12,5% menambah kekhawatiran perlambatan perdagangan dunia. Di saat bersamaan, eskalasi konflik Timur Tengah mendorong harga energi melonjak, meningkatkan risiko inflasi global dan potensi bank sentral menahan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi ini memperkuat arus keluar modal dari pasar berkembang seperti Indonesia.
Ke depan, pelaku pasar diperkirakan masih akan wait and see sambil mencermati perkembangan kebijakan tarif AS dan dinamika harga energi. Apakah IHSG mampu bertahan di level psikologis 6.000-an jika tekanan global terus berlanjut?



