Serangan Udara Israel di Gaza Tewaskan 12 Orang, Satu Keluarga Musnah
Baca dalam 60 detik
- Serangan udara Israel di Gaza City menewaskan 12 warga Palestina, termasuk enam anggota satu keluarga yang rumahnya hancur total.
- Gencatan senjata yang rapuh sejak Oktober 2023 gagal menghentikan kekerasan, dengan lebih dari 1.160 warga Palestina tewas pasca-gencatan.
- PBB mencatat eskalasi serangan Israel dalam sepekan terakhir, menewaskan sedikitnya 57 orang, dan menegaskan tidak ada tempat aman di Gaza.

Serangan udara Israel di Jalur Gaza kembali memakan korban jiwa, kali ini menewaskan 12 warga Palestina pada Selasa (21/7) โ termasuk enam orang dari satu keluarga yang rumahnya luluh lantak di pusat Kota Gaza. Peristiwa ini terjadi di tengah gencatan senjata yang rapuh antara Israel dan Hamas, yang nyatanya tak mampu menghentikan kekerasan di lapangan.
Menurut keterangan badan pertahanan sipil Gaza yang beroperasi di bawah otoritas Hamas, sebuah rumah milik keluarga Al-Masri di kawasan pusat Kota Gaza menjadi sasaran serangan. Enam anggota keluarga tewas seketika, termasuk empat anak-anak. Saksi mata melaporkan ledakan keras terjadi sekitar pukul 02.00 dini hari saat sebagian besar penghuni masih tertidur. "Kami mendengar ledakan besar, dan rumah itu hancur dan terbakar," ujar Youssef al-Masri, seorang saksi yang selamat.
Ahmed al-Masri, saudara dari korban, menggambarkan momen mengerikan ketika ia mendengar teriakan anak-anak minta tolong namun tak mampu menolong. "Seluruh keluarga saudara laki-laki saya terhapus dari catatan sipil: dia, istrinya, dan keempat anak mereka," katanya. Ia berhasil menyelamatkan anak-anaknya sendiri dengan melompat dari jendela saat api melalap bangunan. Rumah bertingkat itu mengalami kerusakan parah, atapnya nyaris runtuh total, sebagaimana terlihat oleh jurnalis AFP di lokasi.
Pihak militer Israel membenarkan adanya serangan di area tersebut, menyebut sasaran adalah "seorang teroris Hamas", tanpa memberikan rincian lebih lanjut. Dalam pernyataan terpisah, militer Israel juga mengklaim telah menyerang "beberapa teroris bersenjata yang memindahkan senjata dalam kendaraan" di Gaza selatan. Sementara itu, rumah sakit Al-Shifa di Gaza telah menerima jenazah dan korban luka dari insiden tersebut.
Kantor hak asasi manusia PBB mengecam eskalasi serangan Israel dalam beberapa hari terakhir. "Tidak ada tempat yang aman bagi warga Palestina di Gaza," kata juru bicara Thameen Al-Kheetan di Jenewa. Menurut data PBB, sedikitnya 57 warga Palestina tewas sejak 13 Juli akibat serangan Israel. Angka ini menambah panjang daftar korban sipil yang terus berjatuhan meskipun ada kesepakatan gencatan senjata.
Bagi Indonesia, konflik ini memiliki resonansi kuat mengingat posisi pemerintah yang konsisten mendukung kemerdekaan Palestina. Eskalasi kekerasan di Gaza kerap memicu reaksi publik dan politik dalam negeri, termasuk desakan untuk memperkuat tekanan diplomatik. Namun, akses media yang terbatas dan pembatasan ketat dari Israel membuat verifikasi independen atas jumlah korban sulit dilakukan, sebagaimana diakui AFP.
Ke depan, kegagalan gencatan senjata yang berkelanjutan menimbulkan pertanyaan serius: akankah komunitas internasional mampu mendorong gencatan senjata permanen, atau justru membiarkan siklus kekerasan terus berulang dengan korban jiwa yang terus bertambah?



