Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Tembus US$92 per Barel
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak Brent menembus US$92 per barel pada Rabu pagi, level tertinggi dalam lima pekan, dipicu eskalasi konflik AS-Iran yang berlangsung 11 hari berturut-turut.
- Ancaman Houthi terhadap kapal tanker Saudi di Selat Bab el-Mandeb serta keterlibatan Kuwait dalam intersepsi drone Iran memperluas risiko gangguan pasokan dari kawasan Teluk.
- Kenaikan harga minyak berpotensi membebani anggaran subsidi energi Indonesia dan memperkuat tekanan inflasi, mengingat posisi Indonesia sebagai importir minyak netto.

Harga minyak mentah dunia kembali melesat pada perdagangan Rabu pagi, dengan Brent menembus level psikologis US$92 per barel untuk pertama kalinya dalam lebih dari sebulan terakhir, dipicu oleh eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang tak kunjung mereda. Serangan udara AS terhadap sasaran militer Iran yang berlangsung selama 11 malam berturut-turut, ditambah insiden pencegatan drone Iran oleh Kuwait, membuat pasar energi global kembali dihantui skenario gangguan pasokan dari kawasan Teluk Persia.
Berdasarkan data Refinitiv hingga pukul 09.30 WIB, harga minyak Brent tercatat di US$92,13 per barel, naik 1,23% dibandingkan penutupan sebelumnya. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menguat ke US$85,28 per barel. Dalam sepekan terakhir, Brent telah melonjak sekitar 4,6%, sedangkan WTI naik 3,4%. Kenaikan ini terjadi di tengah kekhawatiran bahwa konflik dapat melumpuhkan jalur-jalur pelayaran krusial yang menjadi urat nadi pasokan energi global.
Ancaman terhadap arus minyak kian nyata setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi di Selat Bab el-Mandeb. Jalur ini menjadi semakin vital bagi ekspor minyak Saudi karena lalu lintas melalui Selat Hormuz telah menyusut drastis sejak gencatan senjata AS-Iran runtuh awal bulan ini. Situasi ini menempatkan sekitar 12% dari total pasokan minyak dunia dalam risiko, menurut perkiraan analis.
Bagi Indonesia, yang berstatus sebagai importir minyak netto, lonjakan harga ini menjadi sinyal waspada. Setiap kenaikan harga minyak sebesar US$10 per barel diperkirakan menambah beban subsidi energi hingga puluhan triliun rupiah. Pemerintah Indonesia saat ini tengah berupaya menjaga stabilitas harga BBM di tengah tekanan fiskal, namun eskalasi geopolitik yang berkepanjangan bisa memaksa penyesuaian kebijakan. โIndonesia sangat rentan terhadap gejolak harga minyak karena ketergantungan impor yang tinggi,โ ujar seorang analis energi di Jakarta.
Di sisi lain, pelaku pasar juga mencermati data persediaan minyak Amerika Serikat. American Petroleum Institute (API) melaporkan peningkatan stok minyak mentah dan produk distilat pada pekan lalu, sementara persediaan bensin justru menurun. Data resmi dari Energy Information Administration (EIA) yang akan dirilis Rabu waktu setempat menjadi penentu arah harga selanjutnya. Jika stok terbukti lebih rendah dari perkiraan, tekanan kenaikan harga berpotensi bertambah.
Volatilitas harga minyak diperkirakan masih akan tinggi dalam jangka pendek seiring ketidakpastian konflik Timur Tengah. Pertanyaan besarnya kini: mampukah diplomasi internasional meredakan ketegangan sebelum harga minyak menembus level US$100 per barel? Ataukah Indonesia dan negara importir lainnya harus bersiap menghadapi era energi mahal yang berkepanjangan?



