IHSG Cetak Rekor Sembilan Hari Hijau, Asing Justru Lepas Saham-Saham Ini
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penguatan sembilan hari beruntun, ditutup naik 1,74% ke level 6.340,02 pada perdagangan Selasa (21/7/2026).
- Meski asing mencatatkan pembelian bersih Rp31,36 miliar di seluruh pasar, terdapat aksi jual besar-besaran pada sepuluh saham tertentu di pasar reguler.
- Fenomena ini mengindikasikan strategi rotasi portofolio investor asing, yang bisa menjadi sinyal koreksi jangka pendek bagi saham-saham yang dilepas.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menorehkan rekor penguatan sembilan hari beruntun pada Selasa (21/7/2026), ditutup melesat 1,74% ke posisi 6.340,02. Namun di balik euforia tersebut, investor asing justru ramai-ramai melepas sejumlah saham unggulan, menimbulkan tanda tanya di kalangan pelaku pasar.
Data perdagangan menunjukkan sebanyak 421 saham menguat, 205 saham stagnan, dan hanya 169 saham yang melemah. Nilai transaksi mencapai Rp21,50 triliun dengan volume 51,10 miliar saham dan frekuensi 2,94 juta kali. Meski secara agregat asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp31,36 miliar di seluruh pasar, aksi jual bersih (net sell) di pasar reguler justru mencapai Rp360,21 miliar, sementara di pasar negosiasi dan tunai asing melepas Rp328,86 miliar.
Fenomena ini menunjukkan adanya strategi rotasi portofolio dari investor asing. Mereka cenderung mengambil untung di saham-saham yang sudah naik signifikan dan mengalihkan dana ke sektor lain atau menunggu momentum koreksi. Bagi investor domestik, aksi jual asing ini bisa menjadi sinyal waspada, terutama jika berlanjut dalam beberapa hari ke depan.
Menurut analis pasar modal, aksi jual asing di tengah penguatan IHSG bukanlah hal yang aneh. "Ini pola klasik: asing sering menjual saat indeks tinggi untuk merealisasikan keuntungan. Namun, jika volume jual terus membesar, bisa memicu koreksi teknis," ujar seorang analis yang enggan disebut namanya. Ia menambahkan bahwa investor ritel perlu mencermati saham-saham yang dilepas asing karena berpotensi mengalami tekanan jual lanjutan.
Bagi pembaca di Indonesia, khususnya investor ritel, data net foreign sell ini penting untuk diantisipasi. Saham-saham yang masuk dalam daftar jual bersih asing kemungkinan akan mengalami volatilitas tinggi dalam jangka pendek. Sebaliknya, saham yang dibeli asing bisa menjadi indikator kepercayaan terhadap prospek emiten tersebut.
Ke depan, pergerakan IHSG akan sangat dipengaruhi oleh sentimen global dan aksi korporasi emiten. Pertanyaan yang mengemuka: akankah penguatan IHSG berlanjut, atau justru aksi jual asing menjadi awal koreksi? Investor disarankan untuk tetap waspada dan melakukan diversifikasi portofolio.



