Menkeu Purbaya Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2026 Melambat, Optimis Semester Kedua Bangkit
Baca dalam 60 detik
- Menteri Keuangan memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 berkisar 5,4โ5,5%, turun dari 5,61% pada kuartal I, namun diyakini akan meningkat pada semester kedua.
- Pemerintah membantah tuduhan pengelolaan fiskal brutal, mengklaim kebijakan tetap prudent, ditunjukkan dengan peringkat AAA Panda Bond dari lembaga China.
- Keberhasilan penerbitan Panda Bond senilai CNY 7 miliar yang oversubscribed 2,4 kali menunjukkan kepercayaan investor asing terhadap ekonomi Indonesia.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 hanya akan mencapai 5,4 hingga 5,5 persen, lebih rendah dibandingkan capaian kuartal I yang sebesar 5,61 persen. Meski melambat, ia optimistis roda perekonomian akan berakselerasi lebih cepat pada semester kedua tahun ini.
Dalam paparannya di kantor Kementerian Keuangan, Kamis (23/7/2026), Purbaya menyatakan keyakinannya bahwa likuiditas yang memadai dalam sistem perekonomian akan menjadi motor penggerak utama pertumbuhan. "Kemarin 5,6 persen. Mungkin kuartal II 5,4โ5,5 persen. Yang saya tahu, semester kedua, kuartal III, kuartal IV akan tumbuh lebih cepat lagi," ujarnya. Ia menambahkan, pemerintah memastikan ketersediaan uang yang cukup di sistem untuk mendorong aktivitas ekonomi.
Di tengah optimisme itu, Purbaya membantah anggapan bahwa pengelolaan fiskal di era Presiden Prabowo Subianto bersifat brutal. Menurutnya, kebijakan fiskal tetap prudent dan dapat dipertanggungjawabkan. Sebagai bukti, ia menyoroti peringkat AAA yang diraih Panda Bond Indonesia dari lembaga pemeringkat China, Lianhei Credit Rating, pada awal Juli 2026. "Pemerintahan Presiden Prabowo menjalankan fiskal dengan baik dan benar," tegasnya.
Pemerintah Indonesia resmi menerbitkan Panda Bond pada Kamis, 23 Juli 2026. Instrumen berdenominasi yuan ini mencatatkan kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 2,4 kali lipat dari target penawaran. Total permintaan investor mencapai Rp45 triliun, sementara pemerintah hanya menyerap dana sebesar CNY 7 miliar, setara sekitar Rp18,58 triliun (menggunakan kurs Rp2.655 per CNY) atau sekitar US$1 miliar.
Bagi pelaku pasar dan investor Indonesia, proyeksi pertumbuhan kuartal II yang lebih rendah mengirim sinyal perlambatan sementara, namun optimisme semester kedua memberikan ruang bagi strategi investasi jangka pendek. Likuiditas yang dijaga dan kepercayaan investor asing yang tercermin dari kesuksesan Panda Bond menjadi indikator positif stabilitas makroekonomi. Meski demikian, tekanan pada daya beli domestik dan ketidakpastian global tetap menjadi risiko yang perlu diantisipasi.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah apakah percepatan yang dijanjikan pada semester kedua mampu membawa pertumbuhan tahunan mendekati target pemerintah, dan bagaimana pemerintah mengelola keseimbangan antara stimulus likuiditas dan disiplin fiskal di tengah tekanan inflasi.



