Setahun Kepergian Ozzy Osbourne: Kelly Ungkap Luka yang Tak Pernah Sembuh
Baca dalam 60 detik
- Kelly Osbourne mengaku kehilangan ayahnya, Ozzy Osbourne, telah mengubah dirinya menjadi pribadi yang berbeda.
- Dalam unggahan Instagram, ia menggambarkan duka sebagai bahasa yang hanya dipahami oleh mereka yang mengalaminya.
- Ungkapan jujur Kelly mendapat dukungan luas dari warganet yang juga merasakan kehilangan serupa.

Setahun setelah kepergian legenda rock Ozzy Osbourne, putri bungsunya, Kelly Osbourne, mengakui bahwa dirinya bukan lagi orang yang sama. Dalam unggahan emosional di Instagram, ia membagi refleksi mendalam tentang bagaimana duka telah membelah hidupnya menjadi dua fase: sebelum dan sesudah kehilangan.
Ozzy Osbourne, vokalis Black Sabbath yang dikenal dengan julukan "Prince of Darkness", meninggal dunia pada Juli 2025 di usia 76 tahun. Sejak saat itu, Kelly yang kini berusia 41 tahun kerap membuka diri tentang perjuangannya menerima kenyataan pahit tersebut. Menjelang peringatan satu tahun wafatnya sang ayah, ia menulis sebuah catatan panjang berjudul "Apa yang Saya Pelajari tentang Duka dalam Setahun Terakhir".
Dalam tulisannya, Kelly menegaskan bahwa duka bukan sekadar merindukan sosok yang telah pergi. "Kesedihan terdalam adalah bangun setiap hari merindukan versi dirimu yang mati bersama mereka," tulisnya. Ia juga menyebut bahwa kepergian Ozzy telah merenggut lebih dari sekadar seorang ayah—ia kehilangan jiwa yang dulu dikenalinya sebelum kematian mengajarkan hatinya nama sendiri.
Kelly menggambarkan duka sebagai "bahasa yang tidak benar-benar diucapkan siapa pun sampai kehidupan memaksakannya". Ia menambahkan, duka tidak bisa dijelaskan, dipinjam, atau dibayangkan. "Kamu hanya memahami sakitnya yang tak berujung ketika kamu berdiri dalam keheningan yang tak tertahankan, membawa cinta yang tak punya tempat untuk pergi," ungkapnya.
Ungkapan Kelly ini mendapat respons hangat dari warganet. Seorang pengguna berkomentar, "Ayah saya meninggal 17 tahun lalu dan saya bisa bilang kita belajar untuk maju... tapi ada yang berubah di dalam diri kita! Kita tidak akan pernah menjadi orang yang sama lagi." Pengguna lain yang kehilangan ayahnya enam tahun lalu menambahkan, "Duka terdalam sering kali adalah bayangan dari cinta terdalam, bukan hanya kehilangan dia tapi juga diriku sendiri."
Fenomena yang diungkap Kelly—perasaan kehilangan identitas diri setelah ditinggal orang tercinta—sejalan dengan konsep psikologis yang dikenal sebagai "grief identity disruption". Menurut para ahli, kehilangan figur sentral dalam hidup memang dapat memicu krisis identitas, terutama jika hubungan tersebut sangat erat. Kelly sendiri mengaku merindukan "siapa diriku sebelum ayahku meninggal", sebelum hatinya menjadi rumah bagi ketiadaan.
Di Indonesia, pengalaman serupa kerap dialami oleh mereka yang kehilangan orang tua di usia produktif. Budaya kekeluargaan yang kuat membuat ikatan emosional dengan orang tua sangat dalam, sehingga duka yang dirasakan pun terasa lebih kompleks. Ungkapan Kelly bisa menjadi pengingat bahwa proses berduka adalah perjalanan personal yang tak bisa disamaratakan, dan bahwa kehilangan memang mengubah seseorang secara fundamental.
Kelly menutup tulisannya dengan kalimat yang menusuk: "Mungkin itulah kebenaran paling kejam dari duka. Bukan karena kematian merenggut orang yang kita cintai, tapi karena ia meninggalkan kita hidup sebagai hantu dari diri kita yang dulu." Pertanyaan yang kini menggantung: mampukah Kelly—dan siapa pun yang merasakan hal serupa—kembali menemukan jati diri yang baru di tengah reruntuhan masa lalu?



