Konflik Global Bayangi KTT ASEAN di Manila: Krisis Myanmar hingga Ketegangan Laut China Selatan Mengemuka
Baca dalam 60 detik
- Para menteri luar negeri ASEAN menyatakan keprihatinan atas eskalasi konflik AS-Iran dan blokade Houthi yang mengancam pasokan energi global, di tengah pertemuan di Manila.
- Blokade Houthi di Laut Merah dan ketidakstabilan Timur Tengah menambah tekanan pada ekonomi Asia Tenggara yang sangat bergantung pada impor minyak.
- Ketegangan di Laut China Selatan antara Filipina dan China kembali memanas, dengan saling tuduh dan pemanggilan duta besar, membayangi upaya ASEAN menyelesaikan kode etik.

Pertemuan para menteri luar negeri ASEAN dan mitra-mitra utama di Manila pekan ini berlangsung di bawah bayang-bayang krisis global yang kian kompleks. Dimulai dari konflik terbuka antara Amerika Serikat dan Iran hingga blokade laut yang diumumkan kelompok Houthi di Yaman, situasi geopolitik Timur Tengah menimbulkan kekhawatiran serius terhadap pasokan energi dunia dan stabilitas ekonomi kawasan Asia Tenggara.
Dalam pernyataan bersama setelah pertemuan tertutup, para menteri luar negeri ASEAN menekankan bahwa perkembangan terbaru ini secara serius menggerogoti upaya mediasi yang sedang berlangsung dan memperkecil prospek penyelesaian damai melalui dialog. โKami sangat prihatin,โ demikian bunyi pernyataan tersebut, seraya menambahkan bahwa eskalasi konflik menambah ketidakpastian di kawasan yang tengah bergulat dengan berbagai tekanan internal.
Asia Tenggara, sebagai kawasan pengimpor minyak utama dengan produk domestik bruto gabungan mencapai 3,8 triliun dolar AS, sangat rentan terhadap gangguan pasokan energi. Blokade Houthi terhadap Arab Saudi di Laut Merah membuka front baru yang mengancam jalur perdagangan global di luar Teluk. Untuk mengantisipasi dampak tersebut, ASEAN berupaya mempercepat mekanisme berbagi minyak di antara negara anggotanya.
Selain isu Timur Tengah, ASEAN juga menghadapi tantangan berat dari dalam. Konflik di Myanmar yang telah berlangsung lima tahun sejak kudeta militer masih belum menemukan titik terang. Blok tersebut akan mengadakan konsultasi khusus mengenai Myanmar, di tengah mandeknya inisiatif perdamaian yang digagas ASEAN. Perang saudara di Myanmar telah menewaskan sekitar 100.000 orang dan terus menjadi luka mendalam bagi kawasan.
Di sisi lain, ketegangan di Laut China Selatan kembali memanas menjelang pertemuan bilateral antara Menteri Luar Negeri Filipina Maria Theresa Lazaro dan mitranya dari China, Wang Yi. Insiden terbaru terjadi ketika militer Filipina menuduh personel Penjaga Pantai China memukul kepala salah satu personel angkatan laut Filipina dengan pentungan di dekat Beting Second Thomas Shoal. Tuduhan saling provokasi dan manuver berbahaya pun dilontarkan kedua pemerintah. Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. dilaporkan akan memanggil duta besar China di Manila, setelah sebelumnya duta besar Filipina di Beijing juga dipanggil.
Menanggapi insiden tersebut, Kementerian Luar Negeri China menyatakan bahwa ASEAN bukanlah forum yang tepat untuk membahas sengketa maritim bilateral. โFilipina harus menjalankan tugasnya sebagai ketua bergilir ASEAN dengan sungguh-sungguh, mendorong dialog dan kerja sama, bukan menempatkan kepentingan politiknya di atas perdamaian dan stabilitas regional,โ demikian pernyataan resmi Beijing.
Menteri Luar Negeri Lazaro, dalam pidatonya, menekankan pentingnya Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama (TAC) yang genap berusia 50 tahun tahun ini. Ia menyebut TAC sebagai โjangkar paling andalโ ASEAN, dengan prinsip saling menghormati kedaulatan, non-intervensi, dan penyelesaian sengketa secara damai. โDi tengah lanskap global yang retak, tidak ada satu negara pun yang bisa menghadapi badai sendirian. Kekuatan dan ketahanan kita terletak pada kebersamaan,โ ujarnya.
Pertemuan di Manila yang berlangsung hingga 24 Juli ini juga akan dihadiri oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Wang Yi, yang kemungkinan akan mengadakan pertemuan bilateral di sela-sela acara. Selain itu, hadir pula perwakilan dari India, Jepang, Australia, Korea Selatan, Rusia, Inggris, dan Uni Eropa. Agenda pembahasan meliputi penguatan sentralitas ASEAN, integrasi regional dalam ASEAN Community Vision 2045, serta peningkatan kerja sama dengan mitra eksternal.
Bagi Indonesia, dinamika di Manila memiliki implikasi langsung. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan anggota ASEAN yang aktif, Indonesia berkepentingan terhadap stabilitas pasokan energi dan perdagangan global. Ketegangan di Laut China Selatan juga menyangkut kepentingan nasional Indonesia, terutama di wilayah Natuna. Pertemuan ini menjadi ajang bagi Indonesia untuk mendorong diplomasi yang konstruktif dan memastikan bahwa ASEAN tetap menjadi poros stabilitas di kawasan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah ASEAN mampu mempertahankan relevansi dan solidaritasnya di tengah tekanan geopolitik yang semakin kompleks. Dengan konflik Myanmar yang tak kunjung reda, sengketa Laut China Selatan yang terus memanas, dan dampak perang di Timur Tengah, ujian bagi organisasi regional ini belum berakhir.



