Celana Pendek ke Kantor di Tokyo: Antara Kenyamanan dan Kontroversi 'Leg Hair Harassment'
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Tokyo mendorong pria bercelana pendek ke kantor demi mengatasi panas ekstrem, namun menuai protes karena dianggap tidak adil bagi wanita.
- Fenomena 'leg hair harassment' atau sunehara muncul sebagai istilah baru di media sosial, menggambarkan ketidaknyamanan melihat rambut kaki rekan kerja.
- Kebijakan Cool Biz yang diperluas ini memicu tren pria Jepang melakukan laser hair removal demi etika sosial saat memakai celana pendek.

Tokyo mendorong para pekerja pria untuk mengganti setelan jas dan dasi dengan kaus, sepatu olahraga, dan celana pendek di tengah gelombang panas yang melanda Jepang. Namun, kebijakan yang digagas Gubernur Yuriko Koike sejak April lalu ini justru memicu perdebatan baru: tuduhan 'pelecehan rambut kaki' atau yang dikenal dengan istilah sunehara.
Inisiatif yang diberi nama "Tokyo Cool Biz" ini merupakan perluasan dari program penghematan energi yang sudah berjalan sejak 2005. Tujuannya mulia: mengurangi penggunaan pendingin ruangan dengan mendorong pakaian kerja yang lebih ringan. Namun, hampir empat bulan berjalan, aturan longgar ini mendapat sambutan beragam. Sebagian pekerja menikmati kenyamanan, tetapi kelompok lain, terutama wanita, merasa kebijakan ini tidak adil karena mereka tetap diwajibkan mengenakan stoking saat memperlihatkan bagian kaki.
Fenomena suneharaโgabungan kata "sune" (betis) dan "hara" (pelecehan)โmuncul di media sosial sebagai bentuk protes terhadap pemandangan rambut kaki pria yang dianggap mengganggu. Sebuah survei yang dilakukan Gorilla Clinic pada Juni lalu menunjukkan 53,5 persen responden menolak penggunaan celana pendek di kantor, dengan kekhawatiran utama pada bentuk tubuh dan rambut kaki. Menariknya, responden wanita lebih banyak yang menolak dibanding pria, mengindikasikan resistensi lebih besar dari pihak wanita terhadap kaki telanjang rekan pria mereka.
Noboru Watanabe, pejabat lingkungan Pemerintah Metropolitan Tokyo, menegaskan bahwa kebijakan ini bertujuan memberi opsi di tengah cuaca ekstrem, bukan memaksakan gaya berpakaian. "Tidak boleh ada masalah selama pakaian kerja tidak menyinggung siapa pun," ujarnya. Namun, realitas di lapangan berkata lain. Akifumi Funatsu, direktur Gorilla Clinic, mencatat peningkatan jumlah klien yang datang bukan untuk alasan kosmetik, melainkan karena "etika sosial saat memakai celana pendek". Menurutnya, anggapan bahwa pria seharusnya tidak memiliki rambut kaki yang lebat mendorong mereka menjalani laser hair removal agar tidak menyinggung rekan kerja.
Jepang memang tengah bergulat dengan rekor suhu tertinggi dalam beberapa bulan terakhir, ditambah harga energi yang melonjak akibat ketidakstabilan Timur Tengah. Badan Meteorologi Jepang bahkan menciptakan istilah "kokusho-bi" untuk hari dengan suhu di atas 40 derajat Celsius. Data pekan pertama Juli mencatat 7 kematian akibat sengatan panas dan 4.580 orang dirawat di rumah sakit. Dalam situasi ini, pemerintah mendorong langkah-langkah sederhana seperti hidrasi dan penggunaan AC, serta produk-produk inovatif seperti kipas angin portabel, handuk basah sekali pakai, dan payung anti-UV.
Bagi Indonesia, fenomena ini relevan mengingat tantangan serupa di musim kemarau. Kebijakan serupa mungkin bisa diadopsi, namun harus mempertimbangkan sensitivitas budaya dan kesetaraan gender. Di Jepang, pria kini justru merasa tertekan untuk merapikan rambut kaki mereka, menunjukkan bahwa norma sosial bisa berubah seiring kebijakan publik. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap menghadapi perdebatan serupa jika aturan berpakaian longgar diterapkan di tengah cuaca panas yang kian ekstrem?



