Rubio-Wang Bertemu di Manila: Persiapan Kunjungan Xi ke Washington
Baca dalam 60 detik
- Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Menlu China Wang Yi dijadwalkan bertemu di Manila, Rabu, di sela pertemuan ASEAN.
- Pertemuan ini dipandang sebagai langkah konkret untuk mematangkan rencana kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Gedung Putih pada September.
- Dialog tingkat tinggi ini terjadi di tengah rivalitas geopolitik yang intens, namun kedua negara sepakat menjaga stabilitas hubungan bilateral.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio dan mitranya dari China, Wang Yi, akan menggelar pertemuan tatap muka di Manila pada Rabu (22/7). Agenda utama pembicaraan kedua diplomat top itu adalah mematangkan rencana kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Washington pada 24 September mendatang.
Seorang pejabat AS yang enggan disebut namanya mengonfirmasi bahwa Rubio dan Wang akan bertemu di sela-sela rangkaian pertemuan yang terkait dengan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN). Manila menjadi tuan rumah bagi sejumlah forum diplomatik yang mempertemukan para menteri luar negeri dari negara-negara kawasan dan mitra dialog.
Pertemuan Rubio-Wang ini merupakan kelanjutan dari kesepakatan yang dicapai saat Presiden Donald Trump dan Presiden Xi bertemu di Beijing pada pertengahan Mei lalu. Meskipun kedua negara tengah bergulat dalam persaingan geopolitik yang ketat—terkait isu Taiwan, Laut China Selatan, hingga teknologi—keduanya sepakat untuk menstabilkan hubungan bilateral dan menjadwalkan pertemuan puncak berikutnya di Gedung Putih.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki arti strategis. Sebagai anggota ASEAN dan mitra dialog kedua negara adidaya, Jakarta berkepentingan agar rivalitas AS-China tidak mengganggu stabilitas kawasan. Pertemuan di Manila menjadi sinyal bahwa kedua negara masih mengedepankan jalur diplomasi, meskipun ketegangan di Laut China Selatan dan isu teknologi tinggi terus memanas. Indonesia selama ini mendorong pendekatan inklusif dan netralitas ASEAN, namun tetap waspada terhadap potensi tekanan dari kedua kubu.
Menurut pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia, pertemuan Rubio-Wang juga menjadi ujian bagi komitmen Washington dan Beijing untuk mengelola persaingan secara konstruktif. "Jika kunjungan Xi ke Washington benar-benar terwujud, itu akan menjadi tonggak penting dalam upaya meredakan ketegangan. Namun, banyak pihak skeptis karena perbedaan fundamental di antara keduanya masih sangat dalam," ujarnya.
Ke depan, publik akan mencermati apakah hasil pertemuan Manila ini mampu menghasilkan peta jalan yang jelas untuk pertemuan puncak September. Pertanyaan besarnya: akankah kedua negara mampu mengubah retorika stabilisasi menjadi aksi nyata, atau justru kembali ke pola saling curiga seperti sebelumnya?



