IHSG Tembus 6.340, Reli 9 Hari Beruntun Terpanjang di 2026
Baca dalam 60 detik
- Indeks harga saham gabungan mencatat kenaikan 1,74% pada perdagangan Selasa, menandai reli sembilan hari berturut-turut yang belum pernah terjadi sejak awal tahun.
- Pengesahan RUU Pusat Finansial Internasional Indonesia oleh DPR menjadi katalis utama, mendorong sektor utilitas dan properti melonjak lebih dari 3%.
- Investor kini menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pekan ini, sementara tekanan eksternal dari konflik Timur Tengah dan penguatan dolar AS masih membayangi.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Selasa (21/7) di level 6.340,02, melesat 1,74% dan memperpanjang tren positif selama sembilan hari bursa beruntun—rekor terpanjang sepanjang tahun ini. Momentum ini terjadi bertepatan dengan pengesahan Rancangan Undang-Undang Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) oleh Dewan Perwakilan Rakyat, yang langsung disambut antusias oleh pelaku pasar.
Data perdagangan menunjukkan volume transaksi mencapai 51,06 miliar lembar saham dengan nilai Rp 21,50 triliun dan frekuensi 2,94 juta kali. Dari total 795 saham yang diperdagangkan, 421 di antaranya menguat, 205 stagnan, dan hanya 169 yang melemah. Sektor utilitas menjadi primadona dengan kenaikan 4,68%, disusul properti 3,97%, barang baku 3,53%, dan energi 2,95%. Satu-satunya sektor yang tertekan adalah kesehatan.
Emiten dengan kontribusi terbesar terhadap pergerakan IHSG adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang menyumbang 11,82 indeks poin, diikuti PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar 10,74 poin, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar 7,31 poin. Kinerja AMMN dan DSSA mencerminkan optimisme investor terhadap sektor sumber daya alam dan energi, sejalan dengan kenaikan harga komoditas global.
Katalis domestik utama adalah pengesahan RUU PFII yang bertujuan membentuk pusat keuangan internasional di Indonesia. Langkah ini dinilai mampu meningkatkan daya tarik investasi asing dan memperkuat infrastruktur pasar modal. Selain itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru saja merilis data pertumbuhan kredit perbankan nasional yang mencapai 11,5% secara tahunan, menandakan sektor keuangan masih solid. Namun, perhatian pasar kini tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang dimulai hari ini, di mana keputusan suku bunga acuan akan diumumkan dalam waktu dekat.
Dari eksternal, ketegangan geopolitik kembali memanas setelah kelompok Houthi mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi. Langkah tersebut memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global dan mendorong harga minyak mentah menguat. Di sisi lain, Bank Sentral China mempertahankan suku bunga Loan Prime Rate (LPR), sementara indeks dolar AS dan imbal hasil US Treasury kembali menguat. Kombinasi ini berpotensi menekan aliran modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga investor lokal perlu mencermati pergerakan nilai tukar rupiah.
Bagi investor ritel Indonesia, reli IHSG yang berkelanjutan memberikan peluang keuntungan jangka pendek, namun risiko koreksi tetap mengintai jika sentimen global memburuk. Analis memperkirakan IHSG masih memiliki ruang untuk naik menuju level 6.500 dalam sepekan ke depan, asalkan BI mempertahankan suku bunga dan konflik Timur Tengah tidak meluas. Pertanyaan kuncinya: mampukah IHSG mempertahankan momentum positif di tengah tekanan eksternal yang semakin kompleks?



