Nikkei Terjun Bebas 2,7%: Kekhawatiran Investasi AI dan Krisis Timur Tengah Hantam Pasar Saham Jepang
Baca dalam 60 detik
- Indeks Nikkei anjlok 1.811 poin ke 64.611, dipicu oleh keraguan investor atas profitabilitas belanja besar-besaran AI oleh raksasa teknologi AS.
- Eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak mentah di atas 90 dolar AS per barel, memicu kekhawatiran inflasi dan potensi kenaikan suku bunga global.
- Pelemahan bursa Jepang berpotensi menekan indeks saham Asia, termasuk IHSG, di tengah sentimen risk-off yang meluas.

Bursa saham Jepang mengalami hari terburuk dalam beberapa bulan terakhir pada Jumat (24/7), dengan indeks Nikkei ambles hingga 2,73% dan sempat menyentuh level terendah intraday di atas 3%. Aksi jual besar-besaran dipicu oleh dua tekanan utama: keraguan investor terhadap efisiensi investasi raksasa teknologi di bidang kecerdasan buatan (AI) serta ketegangan geopolitik yang memanas di Timur Tengah.
Indeks Nikkei 225 ditutup merosot 1.811,45 poin ke level 64.611,15, sementara indeks Topix yang lebih luas juga tertekan 1,05% ke 4.011,31. Sektor-sektor yang paling terpukul adalah logam non-besi, peralatan listrik, dan kimiaโsektor yang selama ini menjadi motor penggerak pasar saham Jepang. Penurunan ini mengikuti aksi jual di Wall Street semalam setelah Alphabet Inc., induk perusahaan Google, mengumumkan rencana investasi lebih lanjut di AI, yang justru memicu kekhawatiran tentang profitabilitas jangka panjang.
Menurut Maki Sawada, strategist di Nomura Securities, aksi jual kemungkinan besar akan berlanjut menjelang rilis laporan keuangan pekan depan dari sejumlah emiten teknologi besar seperti Advantest, Tokyo Electron, dan Kioxia Holdings. "Kekhawatiran terhadap valuasi saham teknologi setelah pengumuman belanja AI yang masif membuat investor cenderung mengambil untung," ujarnya. Sementara itu, dari sisi makro, ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan (BoJ) dan Federal Reserve AS pada pertemuan pekan depan ikut membebani sentimen.
Di sisi geopolitik, ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim telah menyerang dua kapal tanker Arab Saudi. Laporan bahwa Presiden AS Donald Trump tengah mempertimbangkan serangan besar-besaran terhadap Iran semakin memanaskan situasi. Akibatnya, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak di atas 90 dolar AS per barel, memicu kekhawatiran inflasi global. Kenaikan harga energi ini juga mendorong imbal hasil obligasi AS dan Jepang naik, menekan valuasi saham.
"Ketegangan di Timur Tengah meningkat dengan cepat," kata Masahiro Ichikawa, chief market strategist di Sumitomo Mitsui DS Asset Management.
Bagi Indonesia, pelemahan bursa Jepang menjadi sinyal waspada. Sebagai mitra dagang utama, perlambatan ekonomi Jepang dapat menekan permintaan ekspor komoditas Indonesia. Di sisi lain, kenaikan harga minyak berpotensi memperlebar defisit neraca perdagangan dan menekan nilai tukar rupiah. Investor domestik juga perlu mencermati potensi capital outflow jika risk-off sentiment global berlanjut, terutama di tengah ketidakpastian suku bunga global. IHSG sendiri diperkirakan akan tertekan pada awal pekan depan, mengikuti jejak bursa regional.
Ke depan, pasar akan fokus pada hasil pertemuan BoJ dan The Fed pekan depan. Jika kedua bank sentral memberikan sinyal hawkish, tekanan jual di pasar saham bisa semakin dalam. Pertanyaan besarnya: akankah aksi jual ini hanya koreksi sementara, atau awal dari tren bearish yang lebih panjang? Investor disarankan untuk mencermati pergerakan harga minyak dan perkembangan situasi Timur Tengah sebagai indikator utama.



