Bos SK Group Divonis Bayar Rp10 Triliun ke Mantan Istri: Gugatan Cerai Termahal di Korea
Baca dalam 60 detik
- Pengadilan Korea Selatan memerintahkan Ketua SK Group Chey Tae-won membayar 944 miliar won atau sekitar Rp10 triliun kepada mantan istrinya, Roh Soh-yeong, dalam perkara perceraian yang disebut media lokal sebagai 'perceraian abad ini'.
- Putusan ini lebih rendah dari tuntutan awal 1,38 triliun won setelah Mahkamah Agung membatalkan putusan sebelumnya karena dana gelap dari mantan presiden tidak bisa dianggap sebagai harta bersama.
- Kasus ini menyoroti dinamika chaebol Korea yang terkait erat dengan politik, sekaligus mengguncang SK Group yang tengah menikmati puncak kejayaan berkat bisnis semikonduktor AI melalui anak usahanya SK Hynix.

Pengadilan Korea Selatan memutuskan Ketua SK Group Chey Tae-won harus membayar 944 miliar won atau setara Rp10 triliun kepada mantan istrinya, Roh Soh-yeong, dalam perkara perceraian yang oleh media setempat dijuluki sebagai 'perceraian abad ini'. Putusan yang masih menunggu finalisasi ini lebih rendah dari tuntutan awal sebesar 1,38 triliun won yang dikeluarkan pengadilan pada 2024.
Perkara ini bermula lebih dari satu dekade lalu ketika pernikahan Chey dan Roh—putri mantan Presiden Roh Tae-woo—runtuh setelah terungkap bahwa Chey memiliki anak dari perempuan lain. Perseteruan hukum keduanya kemudian berfokus pada pembagian aset selama 35 tahun pernikahan, termasuk klaim bahwa Chey mendapat bantuan signifikan dari mertuanya yang pernah menjabat presiden pada 1988–1993.
Dalam persidangan awal, tim hukum Roh berhasil meyakinkan pengadilan bahwa Chey menerima 30 miliar won dari dana gelap Roh Tae-woo pada 1991. Namun, Mahkamah Agung membatalkan putusan tersebut tahun lalu dengan alasan dana gelap itu diperoleh secara ilegal sehingga tidak dapat dimasukkan sebagai harta bersama pasangan. Putusan terbaru ini mencerminkan kompromi antara kedua pihak setelah proses banding yang berlarut-larut.
SK Group merupakan chaebol terbesar kedua di Korea Selatan setelah Samsung. Grup ini menguasai berbagai sektor, mulai dari telekomunikasi (SK Telecom) hingga stasiun pengisian bahan bakar. Namun, perhatian global tertuju pada anak usahanya, SK Hynix, yang menjadi pemasok utama chip memori untuk Nvidia dan berada di pusat ledakan kecerdasan buatan (AI). Pada Mei lalu, kapitalisasi pasar SK Hynix di bursa Korea menembus 1 triliun dolar AS, sementara penawaran saham perdananya di New York meraup 26,5 miliar dolar AS—rekor tertinggi bagi perusahaan asing di AS.
Kenaikan nilai SK Hynix turut mendongkrak pamor Chey. Bulan lalu, Presiden Lee Jae-myung secara khusus memuji Chey dan Ketua Samsung JY Lee sebagai 'pahlawan rakyat Korea' saat meluncurkan rencana investasi AI berskala besar. Namun, gugatan perceraian ini menjadi pengingat bahwa di balik kesuksesan bisnis, terdapat kerentanan hukum dan reputasi yang bisa mengguncang grup.
“Ketua Chey Tae-won sangat menyesalkan bahwa proses perceraian ini telah menimbulkan kekhawatiran bagi banyak orang. Kami akan menyampaikan tanggapan spesifik setelah memeriksa putusan secara saksama,” ujar kuasa hukum Chey dalam pernyataan resmi.
Bagi Indonesia, kasus ini relevan mengingat banyak konglomerat Tanah Air juga berbentuk grup keluarga dengan struktur kepemilikan kompleks. Putusan pengadilan Korea yang tegas dalam membagi aset—meski melibatkan dana gelap—bisa menjadi preseden bagi sistem hukum di negara berkembang yang kerap kesulitan mengurai aset perusahaan keluarga. Selain itu, keterkaitan chaebol dengan politik mengingatkan pada praktik kronisme yang juga pernah mewarnai sejarah bisnis Indonesia.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah putusan ini akan memengaruhi tata kelola SK Group dan posisi Chey sebagai ketua. Dengan SK Hynix yang tengah menjadi primadona investasi global, tekanan untuk menjaga stabilitas manajemen semakin besar. Sementara itu, Roh Soh-yeong belum memberikan pernyataan resmi, tetapi sumber dekat keluarga menyebut ia berharap putusan ini bisa menjadi titik akhir dari konflik berkepanjangan.



