Lagi-lagi Bentrok di Laut China Selatan: Pelaut Filipina Dilaporkan Dipukul China
Baca dalam 60 detik
- Militer Filipina menuduh personel Penjaga Pantai China memukul seorang pelaut mereka dengan pentungan kayu di dekat Second Thomas Shoal.
- Insiden ini terjadi hanya beberapa jam sebelum pertemuan diplomatik tingkat tinggi kedua negara di Manila, menambah ketegangan yang sudah memanas.
- Konflik terbaru ini berpotensi mengganggu stabilitas kawasan dan berdampak pada jalur perdagangan maritim yang juga penting bagi Indonesia.

Ketegangan di Laut China Selatan kembali memanas setelah militer Filipina menuduh personel Penjaga Pantai China memukul seorang pelaut mereka dengan pentungan kayu saat patroli di dekat kapal perang yang kandas di Second Thomas Shoal, Senin (20/7). Insiden ini terjadi di tengah upaya diplomatik kedua negara yang dijadwalkan bertemu dalam KTT regional di Manila pekan ini.
Menurut pernyataan resmi Filipina, sebuah perahu karet kaku China yang membawa delapan orang dilaporkan mengelilingi dan memotret BRP Sierra Madre, kapal yang sengaja dikandangkan untuk memperkuat klaim Manila atas terumbu karang tersebut. Dua perahu karet Filipina kemudian dikerahkan untuk mengusir kelompok China, namun situasi berubah menjadi bentrokan fisik.
"Personel China bereaksi dengan keras dan agresif, memukul kepala seorang personel Angkatan Laut Filipina dengan pentungan kayu, menyebabkan cedera dan merusak perahu karet," demikian bunyi pernyataan militer Filipina. Sementara itu, Penjaga Pantai China membantah versi tersebut dan mengklaim telah mengambil "tindakan balasan timbal balik" setelah perahu Filipina mendekat secara berbahaya dan mencoba mengepung kapal patroli China.
Kementerian Pertahanan Filipina menyebut insiden ini sebagai bagian dari "pola jelas perilaku provokatif dan bermusuhan" dari Penjaga Pantai China. Sebaliknya, China menuduh Filipina memutarbalikkan fakta dan menuduh secara salah. "Pihak Filipina mendistorsi fakta dan menuduh China secara tidak benar, benar-benar membalikkan kebenaran," demikian pernyataan China.
Bentrokan ini terjadi di tengah memanasnya perang kata-kata antara kedua negara. Pekan lalu, Manila mengajukan protes diplomatik atas video rasis yang diposting media pemerintah China, yang menggambarkan Filipina sebagai monyet kartun. Sebelumnya pada Juni 2024, personel penegak hukum China bersenjata pisau, tongkat, dan kapak menyerang tentara Filipina yang mencoba memasok garnisun di Second Thomas Shoal. Meskipun kedua pihak mencapai kesepakatan sementara pada Juli 2024 mengenai misi pasokan, ketegangan tetap tinggi.
Bagi Indonesia, eskalasi di Laut China Selatan menjadi perhatian serius. Sebagai negara yang juga memiliki klaim tumpang tindih di kawasan tersebut, setiap insiden dapat mempengaruhi stabilitas keamanan maritim dan jalur perdagangan yang vital. Indonesia selama ini mengadvokasi pendekatan diplomatik dan penghormatan terhadap hukum internasional, termasuk putusan Mahkamah Arbitrase 2016 yang menolak klaim historis China. Namun, dengan meningkatnya frekuensi bentrokan, tekanan terhadap Jakarta untuk mengambil sikap lebih tegas semakin besar.
Ke depan, pertemuan diplomatik antara Menteri Luar Negeri kedua negara di Manila akan menjadi ujian apakah dialog dapat meredakan ketegangan atau justru semakin memperuncing perbedaan. Tanpa adanya terobosan, siklus provokasi dan bentrokan di Laut China Selatan diprediksi akan terus berlanjut, mengancam perdamaian kawasan dan kepentingan ekonomi negara-negara tetangga, termasuk Indonesia.



