Ketegangan Laut China Selatan Memanas: Filipina Tuduh China Gunakan Meriam Air untuk Kedua Kalinya
Baca dalam 60 detik
- Filipina menuduh penjaga pantai China menyemprotkan meriam air ke kapal pemerintah di dekat Scarborough Shoal untuk hari kedua berturut-turut, meningkatkan ketegangan di Laut China Selatan.
- Insiden ini terjadi setelah pertemuan menteri luar negeri ASEAN di Manila, di mana AS mengecam tindakan China dan menegaskan dukungannya terhadap Filipina.
- Konfrontasi terbaru ini menambah daftar panjang sengketa maritim yang melibatkan Indonesia, mengingat klaim China yang tumpang tindih dengan ZEE Indonesia di Natuna.

Ketegangan di Laut China Selatan kembali memanas setelah Filipina menuduh penjaga pantai China menggunakan meriam air terhadap kapal pemerintahnya di dekat Scarborough Shoal untuk hari kedua berturut-turut, Jumat (24/7). Insiden ini merupakan yang ketiga dalam sepekan terakhir, menandai eskalasi terbaru dalam sengketa maritim yang telah berlangsung lama antara kedua negara.
Menurut pernyataan resmi Penjaga Pantai Filipina (PCG), sebuah kapal China mendekati kapal perikanan Filipina hingga jarak sekitar 7 meter, menciptakan risiko tabrakan yang serius. Juru bicara PCG, Jay Tarriela, mengecam tindakan tersebut sebagai "berbahaya dan tidak profesional". Ia menegaskan bahwa Scarborough Shoal merupakan tempat penangkapan ikan tradisional warga Filipina yang tidak boleh dihalangi oleh kekuatan asing mana pun.
China, melalui penjaga pantainya, mengklaim telah menerapkan "tindakan pengendalian" terhadap beberapa kapal Filipina yang dianggap beroperasi secara ilegal di perairan sekitar Scarborough Shoal. Insiden serupa juga terjadi pada Kamis sebelumnya. Beijing telah lama menduduki gosong tersebut sebagai bagian dari klaim kedaulatannya atas hampir seluruh Laut China Selatan, termasuk Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Brunei, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Vietnam.
Insiden ini terjadi di tengah berlangsungnya pertemuan menteri luar negeri ASEAN di Manila, yang dihadiri oleh Menteri Luar Negeri China Wang Yi dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Rubio menyebut tindakan China di Laut China Selatan sebagai "mengganggu" dan menegaskan kembali dukungan AS terhadap Filipina sebagai sekutu pertahanan. Kehadiran kedua diplomat besar ini menunjukkan betapa isu Laut China Selatan menjadi pusat perhatian geopolitik kawasan.
Bagi Indonesia, eskalasi ini memiliki implikasi langsung. Klaim China atas ZEE Indonesia di perairan Natuna telah beberapa kali memicu insiden serupa, meskipun dengan intensitas yang lebih rendah. Pemerintah Indonesia perlu mencermati pola tindakan China yang cenderung meningkat ketika ada momentum diplomatik, seperti pertemuan ASEAN. Langkah China yang agresif di Scarborough Shoal bisa menjadi preseden bagi tindakan serupa di wilayah lain yang disengketakan.
Sebelumnya, pada Senin lalu, terjadi konfrontasi di Second Thomas Shoal yang berjarak 650 km dari Scarborough Shoal. Manila melaporkan seorang pelaut Filipina terluka setelah dipukul dengan pentungan oleh personel penjaga pantai China. China membalas dengan menuduh angkatan laut Filipina mengabaikan peringatan dan mencoba menabrak kapal patroli China. Kedua negara saling memanggil duta besar sebagai bentuk protes.
Sengketa Scarborough Shoal, yang oleh China disebut Huangyan Island, belum memiliki status kedaulatan yang jelas. Putusan arbitrase tahun 2016 yang diajukan Filipina memenangkan Manila dan menyatakan blokade China terhadap gosong tersebut melanggar hukum internasional. Namun, Beijing menolak putusan itu. Dengan meningkatnya frekuensi insiden, pertanyaan yang muncul adalah: akankah ASEAN mampu mendorong dialog yang konstruktif, atau justru ketegangan ini akan terus merembet ke negara-negara lain, termasuk Indonesia?



