Geena Davis: Saya Tak Cukup Cantik untuk Peran Utama di Film Fletch
Baca dalam 60 detik
- Aktris Geena Davis mengaku gagal mendapat peran utama wanita di film Fletch 1985 karena dianggap tidak cukup menarik.
- Alih-alih, ia ditawari peran kecil Larry yang awalnya ditulis untuk pria, namun ia pertahankan nama karakter tersebut.
- Pengalaman ini mencerminkan standar kecantikan ketat di Hollywood era 1980-an yang kini mulai dipertanyakan.

Geena Davis, aktris peraih Oscar, mengungkapkan bahwa ia pernah ditolak untuk memerankan tokoh utama wanita dalam film komedi-thriller klasik Fletch (1985) karena dianggap "tidak cukup menarik". Meski demikian, bakat komedinya tetap membuka pintu masuk ke film tersebut, meski dalam peran yang jauh lebih kecil.
Dalam wawancara terbaru di podcast Armchair Expert yang dipandu Dax Shepard, Davis menceritakan pengalamannya mengikuti audisi untuk karakter Gail Stanwyk, istri seorang taipan yang menyewa jurnalis investigasi Irwin M. Fletcher (diperankan Chevy Chase) untuk membunuhnya. Namun, produser memilih Dana Wheeler-Nicholson untuk peran tersebut. Davis mengaku mendengar komentar langsung: "Kami pikir Anda tidak cukup cantik untuk memerankan karakter itu, tapi Anda sangat lucu. Kami ingin Anda tetap ikut dalam film."
Akhirnya, Davis mendapat peran Larry, seorang wanita muda yang terlibat dalam pengungkapan sindikat narkoba. Menariknya, karakter Larry awalnya ditulis untuk priaโseorang kepala kamar mayatโnamun diubah menjadi perempuan setelah Davis setuju memerankannya. "Mereka bilang akan mengubah nama karakternya, tapi saya tetap ingin dipanggil Larry," ujar Davis. Keputusan itu justru membuat perannya mudah diingat penonton.
Shepard, yang dikenal lewat serial Parks and Recreation, menanggapi bahwa di era 1980-an, penolakan seperti itu dianggap lumrah. "Mereka benar-benar bilang Anda tidak menarik," katanya. Davis pun mengakui bahwa meski sempat menjadi model, ia tidak pernah merasa percaya diri dengan penampilannya. Dalam wawancara dengan The Times tahun 2022, ia mengaku masih berjuang menerima kecantikannya sendiri. "Saya bisa merasa cantik saat berdandan lengkap, tapi itu perjuangan," ungkapnya.
Meski begitu, Davis menegaskan bahwa pengalaman itu tidak meninggalkan luka mendalam. Ia justru merasa semakin menarik seiring bertambahnya usia. "Setiap dekade saya merasa lebih baik tentang diri saya sendiri," katanya. Ia juga membantah rumor bahwa Chevy Chase bersikap kasar selama syuting. "Dia tampak menyenangkan, lucu, dan santai. Dia hebat," ujar Davis.
Kisah Davis ini membuka kembali diskusi tentang standar kecantikan di industri hiburan, terutama pada era 1980-an yang terkenal ketat. Di Indonesia, fenomena serupa juga kerap terjadi di industri film dan televisi, di mana aktris sering dinilai dari penampilan fisik ketimbang kemampuan akting. Namun, perlahan kesadaran akan keberagaman dan inklusivitas mulai tumbuh, meski masih perlu perjuangan panjang. Pertanyaannya, akankah industri perfilman Indonesia mampu belajar dari masa lalu Hollywood dan memberikan kesempatan yang lebih adil bagi talenta berbakat tanpa memandang standar kecantikan sempit?



