Ghibli Fest: Ketika Film Lawas Justru Makin Laris di Bioskop
Baca dalam 60 detik
- Studio Ghibli Fest, festival pemutaran ulang film-film Ghibli di Amerika Serikat, mencatat rekor penjualan tiket tertinggi pada 2024 dengan 14 film meraup 16,4 juta dolar AS.
- Kehadiran layanan streaming justru mendorong minat penonton baru untuk menyaksikan film-film klasik Miyazaki di bioskop, membalikkan asumsi awal distributor.
- Fenomena ini menjadi bukti bahwa bioskop masih relevan sebagai ruang komunal, bahkan di era digital, dan bisa menjadi inspirasi bagi pasar film Indonesia.

Studio Ghibli Fest, festival pemutaran ulang film-film animasi Jepang besutan Hayao Miyazaki, membuktikan bahwa usia sebuah film bukanlah penghalang untuk tetap relevan di layar lebar. Sepanjang 2024, festival yang telah berjalan satu dekade ini mencatat pendapatan kotor 16,4 juta dolar AS dari 14 judul filmโangka tertinggi sepanjang sejarah penyelenggaraannya.
Fenomena ini menarik karena justru terjadi setelah seluruh katalog Ghibli tersedia di platform streaming HBO Max sejak 2020. Alih-alih mengurangi minat menonton di bioskop, kehadiran digital malah melahirkan generasi baru penggemar yang ingin merasakan pengalaman teatrikal. "Kami terus menunggu tahun di mana orang bosan, tapi itu tidak terjadi. Setiap tahun, rekor baru tercipta," ujar Dave Jesteadt, presiden GKids, distributor Ghibli di Amerika Utara.
Ghibli Fest dimulai pada 2017 dengan hanya lima judul dan pendapatan 5 juta dolar AS. Kini, jangkauannya meluas dari 640 lokasi bioskop menjadi lebih dari 1.100 lokasi. Film seperti "My Neighbor Totoro", "Spirited Away", dan "Ponyo" tidak lagi sekadar tayangan ulang sesekali, melainkan sudah menjadi agenda tahunan yang dinanti. Bahkan, durasi tayang diperpanjang dari dua hari menjadi lima hari untuk mengakomodasi permintaan penggemar.
Keberhasilan Ghibli Fest tidak lepas dari strategi distribusi yang cerdas. Alih-alih memperlakukan film klasik sebagai barang museum, GKids dan Fathom Entertainment membawanya ke bioskop-bioskop multiplex dengan perlakuan setara film Hollywood baru. "Salah satu hal terburuk yang bisa terjadi pada film klasik adalah jika ia dianggap sebagai klasik dan disimpan dalam lemari," kata Jesteadt. Pendekatan ini berhasil menarik penonton lintas generasi: dari orang tua yang bernostalgia hingga anak-anak yang baru pertama kali mengenal dunia Ghibli.
Fenomena ini juga menjadi angin segar bagi industri bioskop yang kerap dilanda kekhawatiran akan matinya layar lebar. Di tengah menjamurnya platform streaming, Ghibli Fest membuktikan bahwa bioskop masih memiliki daya tarik unik sebagai ruang komunal. Shannah Miller, wakil presiden pemasaran Fathom, menegaskan, "Kami punya cerita berbeda dengan Studio Ghibli. Ini tentang perayaan, bukan soal 'apakah bioskop mati?'"
Bagi Indonesia, kesuksesan Ghibli Fest bisa menjadi pelajaran berharga. Pasar film Indonesia memiliki banyak judul klasik yang berpotensi dihidupkan kembali, seperti karya-karya Teguh Karya atau Arifin C. Noer. Dengan strategi pemasaran yang tepat dan kemitraan dengan jaringan bioskop, bukan tidak mungkin festival film lawas serupa bisa digelar di Tanah Air. Apalagi, antusiasme penonton Indonesia terhadap film animasi Jepang sudah terbukti lewat kesuksesan "Spirited Away" dan "Your Name" saat tayang di bioskop.
Ke depan, Ghibli Fest akan terus berlanjut dengan jadwal yang sudah ditetapkan hingga Oktober 2025. Pertanyaan besarnya: mampukah fenomena ini bertahan sepuluh tahun lagi? Atau justru akan melahirkan model bisnis baru bagi distribusi film klasik di seluruh dunia? Yang jelas, selama ada penonton yang rela memakai piyama Totoro dan duduk di kursi bioskop bersama tiga generasi, Ghibli Fest sepertinya belum akan berhenti.



