Rusia-Korea Utara Perkuat Poros Strategis: Dukungan Penuh untuk Perang Ukraina
Baca dalam 60 detik
- Menteri Luar Negeri Korea Utara dan Rusia sepakat mempercepat implementasi pakta kemitraan strategis komprehensif yang ditandatangani tahun lalu.
- Moskow menyatakan dukungan penuh terhadap Pyongyang dalam menghadapi 'tindakan bermusuhan', sementara Korut kembali menegaskan dukungannya pada kebijakan Rusia di Ukraina.
- Pertemuan ini menegaskan kedalaman aliansi kedua negara di tengah kecaman internasional, dengan implikasi langsung pada stabilitas kawasan Indo-Pasifik.

Menteri Luar Negeri Korea Utara, Choe Son Hui, dan mitranya dari Rusia, Sergey Lavrov, menggelar dialog strategis di Moskow pada Senin lalu dan sepakat untuk memperkuat kerja sama bilateral di berbagai bidang. Kesepakatan ini mencakup implementasi perjanjian kemitraan strategis komprehensif yang ditandatangani oleh pemimpin kedua negara pada 2024, termasuk rencana kunjungan tingkat tinggi dan koordinasi diplomatik atas isu-isu global utama.
Menurut laporan Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) pada Selasa, kedua menteri mencapai konsensus atas seluruh agenda yang dibahas. Rusia menyatakan dukungan penuh terhadap upaya Korea Utara untuk melawan segala bentuk permusuhan yang mengancam kedaulatan dan kepentingan keamanannya. Sementara itu, Pyongyang kembali menegaskan dukungannya yang tak tergoyahkan terhadap seluruh kebijakan dalam dan luar negeri Rusia, termasuk upaya Moskow untuk menghilangkan akar permasalahan konflik Ukraina.
Pertemuan ini merupakan buntut dari kunjungan Choe Son Hui ke Moskow pada akhir pekan lalu, di mana ia bertemu langsung dengan Presiden Vladimir Putin. Putin kembali berterima kasih atas bantuan Pyongyang dalam perang melawan Ukraina, sebagaimana dilaporkan kantor berita Tass. Kedua pemimpin menegaskan tekad untuk memperkuat aliansi bilateral tanpa terpengaruh dinamika global yang berubah.
Bagi Indonesia, penguatan poros Rusia-Korea Utara menjadi sinyal penting dalam peta geopolitik kawasan. Sebagai negara yang secara konsisten mendukung perdamaian di Semenanjung Korea dan menolak invasi Rusia ke Ukraina, Jakarta harus mencermati potensi dampak dari aliansi ini terhadap stabilitas Indo-Pasifik. Kerja sama militer yang semakin erat antara kedua negara dapat memicu reaksi berantai, termasuk peningkatan aktivitas kapal selam di perairan sekitar Indonesia atau pengalihan rute perdagangan.
Para analis menilai bahwa pertemuan ini menunjukkan kegagalan upaya isolasi internasional terhadap Korea Utara dan Rusia. Alih-alih tertekan sanksi, kedua negara justru semakin solid. Dalam jangka panjang, poros ini berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan di Asia Timur, terutama dalam isu nuklir Korea Utara dan sengketa Laut China Selatan. Pertanyaannya, akankah negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, mampu menjaga netralitas dan mendorong dialog di tengah polarisasi yang semakin tajam?



