DPR Restui Hibah Kapal Induk Garibaldi dari Italia, Lampung Disiapkan Jadi Pangkalan
Baca dalam 60 detik
- Rapat paripurna DPR menyetujui hibah kapal induk Giuseppe Garibaldi dari Italia, menandai penguatan alutsista TNI AL.
- Lanal Lampung diproyeksikan sebagai pangkalan utama, dengan infrastruktur dan personel yang tengah dipersiapkan.
- Proses pengawakan kapal akan melibatkan kru gabungan Indonesia-Italia sebelum penyeberangan ke Tanah Air.

DPR RI secara resmi memberikan lampu hijau atas rencana penerimaan hibah kapal induk Giuseppe Garibaldi dari Italia, Selasa (21/7). Keputusan ini diambil dalam rapat paripurna yang dipimpin langsung oleh Ketua DPR Puan Maharani, setelah sebelumnya Komisi I DPR bersama Kementerian Pertahanan menyetujui langkah tersebut pada Senin (20/7). Langkah ini menjadi tonggak penting bagi modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI Angkatan Laut.
Kapal induk seberat 13.850 ton yang pernah menjadi andalan Angkatan Laut Italia itu akan memperkuat armada permukaan TNI AL. Kehadiran Garibaldi diproyeksikan meningkatkan kemampuan proyeksi kekuatan laut Indonesia, terutama dalam operasi patroli dan penegakan kedaulatan di perairan Nusantara. Meski berstatus hibah, biaya pemeliharaan dan operasional kapal sebesar ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi anggaran pertahanan nasional.
Pangkalan TNI AL (Lanal) Lampung telah ditetapkan sebagai home base Garibaldi. Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut Laksamana Pertama Tunggul mengonfirmasi bahwa pembangunan fasilitas labuh dan sandar di pangkalan tersebut masih terus berlangsung. "Hingga saat ini, pembangunan fasilitas terus berjalan, sehingga harapannya sebelum Garibaldi tiba di Indonesia seluruh fasilitas sudah siap dan terdukung," ujarnya, Selasa (14/7).
Tidak hanya infrastruktur, aspek sumber daya manusia juga menjadi perhatian serius. Saat ini, sejumlah kru Garibaldi dari TNI AL telah berada di Italia untuk mengikuti pelatihan pengoperasian kapal induk. Proses penyeberangan kapal dari Italia ke Indonesia akan menggunakan konsep joint crew, di mana personel TNI AL dan Angkatan Laut Italia bersama-sama mengawaki kapal selama pelayaran. "Setelah itu akan melaksanakan penyeberangan lintas laut dengan konsep joint crew. Jadi joint crew itu merupakan personil pengawak dimana sebagian dari personil TNI AL dan sebagian lagi dari personel Angkatan Laut Italia," jelas Tunggul.
Keputusan ini menuai beragam respons. Sejumlah pengamat militer menilai hibah kapal induk ini sebagai langkah strategis untuk memperkuat pertahanan maritim Indonesia di tengah ketegangan di Laut China Selatan. Namun, ada pula yang menyoroti beban operasional dan perawatan yang tidak sedikit. Kapal induk membutuhkan dukungan logistik yang kompleks, termasuk kapal suplai, pesawat, dan personel terlatih. Pemerintah perlu memastikan kesiapan anggaran jangka panjang agar aset ini tidak menjadi "gajah putih" yang justru membebani keuangan negara.
Setelah tiba di Indonesia, serah terima resmi akan dilakukan, dan seluruh pengawakan akan diisi oleh prajurit TNI Angkatan Laut. Pertanyaan yang kini mengemuka: seberapa cepat Garibaldi dapat dioperasikan secara penuh, dan apakah Indonesia mampu memaksimalkan potensi kapal induk ini untuk menjaga kedaulatan laut Nusantara?



