Metro Tutup Dua Gerai Besar di Singapura, Beralih ke Konsep Ritel Fleksibel
Baca dalam 60 detik
- Metro Holdings akan menutup department store di Paragon dan Causeway Point setelah sewa berakhir, sebagai bagian dari transformasi ritel.
- Perusahaan beralih dari format besar ke toko kecil, multi-spesialisasi, dan pop-up untuk menyesuaikan dengan perubahan perilaku konsumen.
- Langkah ini mencerminkan tekanan pada department store tradisional di Asia, termasuk potensi dampak bagi pasar Indonesia yang juga mengalami tren serupa.

Metro Holdings, peritel asal Singapura, mengumumkan akan menghentikan operasional department store-nya di dua pusat perbelanjaan utama, Paragon dan Causeway Point, begitu masa sewa berakhir. Keputusan ini diambil setelah perusahaan melakukan kajian strategis yang mendalam terhadap bisnis ritelnya, yang menurut manajemen sudah tidak lagi sejalan dengan kebiasaan belanja konsumen modern.
Dalam pengumuman resmi di bursa efek Singapura, Senin (20/7), Metro menyatakan bahwa kedua gerai tersebut merupakan department store format besar terakhir yang masih mereka kelola. Penutupan ini menandai akhir dari era panjang Metro sebagai pengelola toko serba ada berskala besar di negeri jiran itu. Sebelumnya, Metro sudah menutup gerai flagship di The Centrepoint pada 2019, serta menghentikan operasi di City Square dan Compass Point.
Perusahaan berencana melakukan transisi secara bertahap menuju model ritel yang lebih lincah. Konsep baru yang tengah dijajaki mencakup toko berukuran lebih kecil, gerai multi-spesialisasi, pengalaman belanja yang dikurasi, serta inisiatif toko pop-up. Metro juga tengah berdiskusi dengan pemilik mal saat ini dan calon mitra lainnya untuk meluncurkan konsep ritel multi-produk yang lebih segar.
CEO Metro, Yip Hoong Mun, menyebut lingkungan operasi yang menantang dan ekspektasi konsumen yang "fundamentally different" sebagai pendorong perubahan ini. "Strategi ritel yang diperbarui dirancang untuk memenuhi harapan pelanggan yang terus berkembang, sambil memberi kami fleksibilitas lebih besar untuk memperkenalkan konsep, merek, dan kemitraan baru," ujarnya dalam keterangan resmi. Chairman Metro, Tan Soo Khoon, menambahkan bahwa lanskap ritel sedang bertransformasi dan perusahaan harus ikut berevolusi.
Menariknya, Paragon—mal yang dikelola CapitaLand Integrated Commercial Trust—mengonfirmasi bahwa Metro telah menyatakan minat untuk tetap berada di mal tersebut dengan konsep toko ritel baru. Diskusi masih berlangsung dan studi kelayakan sedang dilakukan. Langkah ini sejalan dengan upaya Paragon memperkuat komposisi penyewa dan menghadirkan konsep segar setelah diakuisisi oleh CapitaLand pada 1 Juli lalu.
Bagi Indonesia, tren penutupan department store besar bukanlah hal asing. Beberapa tahun terakhir, gerai-gerai serba ada di pusat perbelanjaan Tanah Air mulai meredup, tergerus oleh platform e-commerce dan perubahan preferensi konsumen yang lebih menyukai pengalaman belanja personal dan cepat. Langkah Metro bisa menjadi sinyal bagi peritel lokal untuk mulai mempertimbangkan transformasi serupa, baik melalui format toko yang lebih kecil maupun integrasi dengan kanal digital.
Metro juga akan terus mengembangkan Grand Brands Asia, usaha patungan di bidang manajemen merek yang fokus pada merek ritel internasional dan toko konsep imersif. Perusahaan berjanji akan memberikan pembaruan lebih lanjut jika ada perkembangan material terkait implementasi strategi ritel barunya. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah model department store tradisional masih punya tempat di era belanja yang serba instan dan personal?



