Yen Menguat Terbesar dalam Sebulan, Pasar Menanti Data Tenaga Kerja AS
Baca dalam 60 detik
- Yen mencatat penguatan mingguan terbesar sejak akhir Juli, didorong spekulasi kenaikan suku bunga BOJ.
- Intervensi bersama Jepang-AS pada Juli masih membayangi, tetapi analis menilai pergerakan kali ini lebih karena ekspektasi kebijakan moneter.
- Data nonfarm payrolls dan inflasi AS pekan ini akan menentukan arah dolar dan potensi intervensi yen selanjutnya.

Yen Jepang berbalik melemah terhadap dolar AS pada Jumat (4/9) setelah reli dua hari, namun tetap berada di jalur penguatan mingguan terbesar dalam lebih dari sebulan. Pergerakan ini dipicu meningkatnya spekulasi bahwa Bank of Japan (BOJ) akan menaikkan suku bunga lebih agresif, sementara pasar global menanti rilis data tenaga kerja Amerika Serikat yang dapat memengaruhi kebijakan Federal Reserve.
Pada perdagangan pagi, yen sempat menyentuh level 155,25 per dolar, mendekati titik tertinggi 155,20 yang tercatat bulan lalu setelah intervensi Juli. Namun, mata uang tersebut kemudian merosot ke 156,45, melemah 0,4 persen. Meski demikian, yen masih mencatat kenaikan mingguan sebesar 2,2 persen, terbesar sejak akhir Juli ketika Jepang dan AS melakukan intervensi bersama yang langka untuk menghentikan penurunan tajam yen.
Menariknya, analis menilai lonjakan yen kali ini tidak didorong oleh aksi resmi pemerintah, melainkan oleh ekspektasi pasar bahwa BOJ akan mengambil sikap hawkish pada pertemuan 17-18 September mendatang. "Pasar mulai gelisah terhadap kemungkinan intervensi, dan ancaman itu masih ada," ujar Ray Attrill, kepala strategi FX di National Australia Bank. Namun, ia menambahkan bahwa tanpa kejutan kebijakan signifikan atau intervensi yang lebih agresif dari The Fed, yen diperkirakan tidak akan menembus level 155 secara berkelanjutan dalam beberapa pekan ke depan.
Pejabat tinggi mata uang Jepang, Atsushi Mimura, pada Jumat menyatakan tetap waspada terhadap pergerakan nilai tukar dan terus berkomunikasi dengan otoritas AS. Pernyataan ini menjaga pasar dalam siaga terhadap potensi intervensi pembelian yen. Sementara itu, JPMorgan menilai ekspektasi repatriasi dana pensiun Jepang dan kenaikan suku bunga BOJ "agak berlebihan", tetapi memperingatkan bahwa pelunasan posisi short yen yang diperkirakan mencapai 16-17 triliun yen dapat mendorong dolar turun ke kisaran 142-146 terhadap yen.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) sedikit menguat ke 99,02, sementara euro stagnan di $1,1627 dan sterling di $1,3533. Dolar sendiri berada di jalur penurunan mingguan sebesar 0,7 persen. Pasar kini mengalihkan perhatian ke rilis data nonfarm payrolls yang akan dirilis Jumat malam dan data inflasi CPI pekan depan, yang akan menjadi pertimbangan The Fed dalam pertemuan 15-16 September. Gubernur The Fed Christopher Waller pada Kamis mengindikasikan kecenderungan untuk mempertahankan suku bunga jika data inflasi berikutnya menunjukkan moderasi. Pernyataan ini meredam ekspektasi pasar akan kenaikan suku bunga pada September, dengan probabilitas tersirat kembali ke 50 persen.
Ketegangan geopolitik di Teluk juga menjadi perhatian, dengan harga minyak mentah Brent bertahan di atas $95 per barel setelah serangan AS ke Iran. Situasi ini berpotensi menambah tekanan inflasi global. Sementara itu, dolar Selandia Baru menguat 0,3 persen ke $0,5899 setelah bank sentral menaikkan suku bunga 25 basis poin ke 2,75 persen dan mengisyaratkan pengetatan lebih lanjut. Dolar Australia juga naik tipis 0,1 persen ke $0,7209. Di pasar kripto, bitcoin melemah 0,3 persen ke $80.973,97, tetapi masih mencatat kenaikan mingguan 3 persen karena kekhawatiran debasement mata uang fiat.
Bagi Indonesia, pergerakan yen dan dolar ini memiliki implikasi terhadap nilai tukar rupiah dan arus modal asing. Penguatan yen yang berkelanjutan dapat mendorong investor Jepang untuk menarik dana dari pasar obligasi Indonesia, mengingat Jepang adalah salah satu investor terbesar di Surat Berharga Negara (SBN). Namun, jika The Fed mempertahankan suku bunga, tekanan terhadap rupiah bisa mereda. Bank Indonesia perlu mencermati dinamika ini dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan menarik investasi portofolio.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah BOJ akan benar-benar menaikkan suku bunga pada September atau justru menahan diri karena ketidakpastian global. Jika BOJ bertindak hawkish, yen berpotensi menguat lebih jauh, tetapi jika tidak, reli ini bisa berbalik arah. Pasar juga akan mencermati apakah intervensi Jepang akan terjadi lagi, mengingat otoritas moneter negara itu telah menunjukkan kesiapan untuk bertindak. Semua mata kini tertuju pada data tenaga kerja AS yang akan menjadi penentu arah kebijakan The Fed dan sentimen pasar global dalam pekan-pekan mendatang.



