Harga Apartemen Bekas Tokyo Turun untuk Pertama Kali dalam 26 Bulan, Tanda Pasar Mulai Melambat?
Baca dalam 60 detik
- Harga rata-rata apartemen bekas di Tokyo turun 0,8% pada Juni 2025 dibanding bulan sebelumnya, menjadi 127,41 juta yen, setelah 26 bulan berturut-turut naik.
- Penurunan ini dipicu oleh daya beli yang mulai terbatas, mendorong sebagian pengembang menurunkan harga jual, meski secara tahunan harga masih melonjak 23,3%.
- Fenomena ini bisa menjadi indikasi puncak siklus properti Jepang, yang berpotensi mempengaruhi minat investor asing, termasuk dari Indonesia, terhadap aset real estat di Tokyo.

Untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun, harga jual apartemen bekas di Tokyo mengalami penurunan bulanan. Data terbaru dari Tokyo Kantei Co. menunjukkan bahwa rata-rata harga yang diminta untuk unit kondominium second-hand di ibu kota Jepang itu turun 0,8 persen pada Juni 2025 dibandingkan bulan sebelumnya, menjadi 127,41 juta yen atau setara sekitar 781.000 dolar AS. Angka ini mematahkan tren kenaikan yang berlangsung sejak April 2023.
Meskipun secara bulanan turun, secara tahunan harga masih melonjak 23,3 persen. Artinya, pasar properti Tokyo masih berada dalam fase super-panas, namun ada tanda-tanda bahwa daya beli mulai tersendat. Tokyo Kantei mencatat bahwa pembeli semakin kesulitan mengikuti lonjakan harga di 23 distrik utama Tokyo, sehingga sejumlah perusahaan properti mulai memangkas harga untuk menarik minat.
Fenomena ini tidak merata. Di kawasan Tokyo Raya yang mencakup Tokyo dan tiga prefektur tetangga, harga rata-rata justru naik 27,4 persen secara tahunan menjadi 74,54 juta yen. Sementara itu, di Osaka Prefektur harga melesat 22,1 persen menjadi 43,96 juta yen, dan di Hyogo naik 4,2 persen menjadi 25,88 juta yen. Namun, di Aichi Prefektur harga justru terkoreksi 1,5 persen menjadi 24,16 juta yen.
Di pusat kota Tokyo, tepatnya di enam distrik premium seperti Chiyoda, harga rata-rata mencapai 185,12 juta yen secara tahunan, naik 12,8 persen. Namun, secara bulanan harga di kawasan ini juga turun 1,3 persen, menandai penurunan bulan kedua berturut-turut. Seorang pejabat Tokyo Kantei memperkirakan harga di distrik pusat masih berpotensi turun lebih lanjut, sementara di wilayah lain harga akan tetap tinggi karena pasokan terbatas.
Bagi pembeli properti di Indonesia, tren ini patut dicermati. Tokyo selama ini menjadi salah satu tujuan investasi properti luar negeri yang populer, terutama bagi kalangan atas. Penurunan harga, meskipun tipis, bisa menjadi peluang entry point. Namun, perlu diingat bahwa yen yang masih lemah terhadap dolar AS dan rupiah membuat properti di Tokyo relatif lebih murah bagi investor asing. Di sisi lain, kenaikan suku bunga Bank of Japan yang baru-baru ini terjadi bisa menekan daya beli domestik lebih lanjut.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah penurunan ini hanya koreksi sementara atau awal dari tren penurunan yang lebih panjang. Dengan pasokan apartemen baru yang terbatas dan permintaan yang masih tinggi dari investor asing, harga mungkin tidak akan jatuh drastis. Namun, jika daya beli domestik terus melemah, bukan tidak mungkin pasar properti Tokyo akan mengalami stagnasi dalam beberapa bulan mendatang.



