Dolar AS Bangkit ke 156 Yen: Sinyal Pasar Menanti Data Tenaga Kerja dan Sikap The Fed
Baca dalam 60 detik
- Dolar AS menguat kembali ke kisaran 156 yen di Tokyo setelah sempat terpuruk lebih dari 3 yen akibat sinyal dovish dari Gubernur Federal Reserve Christopher Waller.
- Penguatan dolar dipicu aksi beli saat harga turun dan menjelang rilis data nonfarm payrolls AS, sementara imbal hasil obligasi Jepang 10 tahun merosot ke level terendah dalam sepekan.
- Pasar Asia, termasuk bursa Tokyo, merespons positif dengan Nikkei naik 1,26%, namun investor masih wait-and-see menunggu keputusan kenaikan suku bunga Bank of Japan.

Dolar Amerika Serikat berhasil bangkit ke kisaran 156 yen pada perdagangan Jumat di Tokyo, setelah sehari sebelumnya jatuh lebih dari 3 yen di New York. Pergerakan ini terjadi di tengah spekulasi pasar bahwa selisih suku bunga antara Jepang dan AS bakal menyempit, menyusul pernyataan Gubernur Federal Reserve Christopher Waller yang mengisyaratkan penahanan suku bunga jika data inflasi terus melandai.
Sepanjang pekan ini, dolar sempat menyentuh level tertinggi di atas 160 yen sebelum akhirnya terkoreksi tajam. Penurunan sekitar 5 yen tersebut dinilai berlebihan oleh sebagian pelaku pasar, sehingga memicu aksi beli saat harga murah. "Dolar yang melemah sekitar 5 yen setelah menembus 160 pekan ini memunculkan aksi beli karena dianggap sudah turun terlalu dalam," ujar Yuzo Sakai, kepala manajer perencanaan bisnis di Ueda Totan Forex Ltd.
Selain faktor teknikal, sentimen pasar juga ditopang oleh harga minyak mentah yang masih tinggi serta antisipasi terhadap rilis data nonfarm payrolls AS yang dijadwalkan keluar pada hari yang sama. Para trader melakukan penyesuaian posisi dan ambil untung sebelum data tersebut dirilis, yang berpotensi mempengaruhi arah kebijakan moneter The Fed selanjutnya.
Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang bertenor 10 tahun sempat turun ke level 2,895 persen, terendah dalam sepekan terakhir. Pelemahan ini seiring menguatnya yen yang meredakan kekhawatiran inflasi, ditambah dengan penurunan imbal hasil treasury AS. Kondisi ini memberikan ruang bagi Bank of Japan untuk mempertimbangkan langkah selanjutnya dalam normalisasi kebijakan moneternya.
Di bursa saham Tokyo, indeks Nikkei 225 ditutup menguat 806,46 poin atau 1,26 persen ke level 65.020,94. Indeks Topix yang lebih luas juga naik tipis 0,03 persen ke 4.103,23. Penguatan ini didorong aksi beli pada saham-saham berkapitalisasi besar seperti SoftBank Group dan Fast Retailing, yang sebelumnya sempat tertekan. Sektor informasi dan komunikasi, sekuritas, serta logam non-besi menjadi pendorong utama kenaikan di Papan Utama.
Meski indeks utama menguat, lebih dari separuh sektor di Bursa Tokyo justru melemah. Tekanan terbesar dirasakan saham otomotif yang cenderung rentan terhadap penguatan yen, karena dapat menggerus daya saing ekspor. Namun, aksi beli pada saham unggulan berhasil menopang indeks, seiring meredanya kekhawatiran akan valuasi yang terlalu tinggi setelah imbal hasil obligasi naik.
Volume perdagangan tercatat rendah, mengindikasikan banyak investor memilih menunggu di sela-sela. "Investor cenderung menahan diri sampai keputusan kenaikan suku bunga Bank of Japan final, karena sebagian besar pelaku pasar sudah memperhitungkan langkah tersebut bulan ini," kata Shota Sando, analis pasar ekuitas di Tokai Tokyo Intelligence Laboratory Co.
Bagi Indonesia, pergerakan yen dan dolar ini memiliki implikasi tidak langsung terhadap nilai tukar rupiah dan arus modal asing. Penguatan yen biasanya mendorong investor Jepang untuk lebih agresif berinvestasi di luar negeri, termasuk ke pasar obligasi dan saham Indonesia. Namun, ketidakpastian kebijakan The Fed dan BoJ masih menjadi faktor utama yang menentukan arah aliran dana asing ke pasar keuangan regional.
Ke depan, pasar akan mencermati data nonfarm payrolls AS yang akan menjadi petunjuk apakah The Fed benar-benar akan menahan suku bunga. Di sisi lain, keputusan Bank of Japan pada pertemuan bulan ini akan menjadi katalis utama bagi pergerakan yen dan obligasi pemerintah Jepang. Jika BoJ menaikkan suku bunga, selisih suku bunga dengan AS akan semakin sempit, yang berpotensi memperkuat yen lebih lanjut dan menekan dolar. Pertanyaannya, seberapa cepat dan seberapa jauh normalisasi kebijakan moneter kedua bank sentral ini akan berlangsung?



