Konflik Hormuz Mengancam Harga Pakaian Murah: Dari Shein hingga Uniqlo Kena Dampak
Baca dalam 60 detik
- Kenaikan harga minyak akibat ketegangan di Selat Hormuz mulai merembet ke industri fesyen, terutama pakaian berbahan sintetis seperti poliester dan nilon.
- Produsen poliester China seperti Tongkun Group menikmati lonjakan laba sementara Hengli Petrochemical tertekan, menandakan rantai pasok yang rapuh.
- Merek fesyen yang bergantung pada bahan daur ulang seperti Inditex dan H&M dinilai lebih siap menghadapi krisis dibanding Uniqlo yang mengandalkan kain fungsional berbasis minyak.

Ketegangan militer di Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia, mulai mengirim gelombang kejut ke industri fesyen global. Pakaian murah yang biasa kita beli—mulai dari celana ketat Rp15 ribu di Shein hingga jaket Rp200 ribuan di Temu—terancam mengalami kenaikan harga karena sebagian besar lemari pakaian modern ternyata terbuat dari minyak bumi dalam bentuk serat sintetis seperti poliester, nilon, dan spandex.
Menurut analis Bloomberg Opinion David Fickling, efek kejutan pasokan minyak memang lebih dulu terasa di harga bensin dan tiket pesawat, tetapi perlahan mulai menjalar ke perdagangan garmen. Pola yang mirip dengan panic buying tisu toilet di awal pandemi atau pembelian bensin borongan saat eskalasi konflik Timur Tengah kini mulai terlihat di sektor tekstil. Perusahaan pakaian, khawatir akan gangguan pasokan, berbondong-bondong memborong bahan baku, mendorong harga poliester berjangka di China naik 25 persen pada Maret lalu ke level tertinggi dalam empat tahun.
Data menunjukkan bahwa Tongkun Group, produsen benang poliester yang menguasai sekitar 18 persen pasar dunia, memperkirakan laba bersihnya akan naik tiga kali lipat pada semester pertama tahun ini. Namun, di balik lonjakan itu ada kerentanan. Tongkun mengandalkan pinjaman bank jangka pendek dan pembayaran cepat dari pelanggan untuk membiayai modal kerjanya—sebuah model yang hanya bisa bertahan jika rantai pasok berjalan mulus. Konflik di Iran, yang mengancam jalur pengiriman minyak mentah, bisa menjadi batu sandungan.
Di sisi lain, Hengli Petrochemical, perusahaan yang mengolah minyak mentah menjadi resin polimer dan serat, telah menurunkan produksi karena pasokan menyusut. Sahamnya ambles hampir sepertiga sejak awal tahun. Produksi serat sintetis China pada April turun 11 persen dari bulan sebelumnya ke level terendah sejak 2024. Meskipun plastik primer relatif mudah disimpan dan memberikan bantalan sementara, cadangan minyak pemerintah yang menipis dan volume pengiriman melalui Selat Hormuz yang masih rendah membuat masa tenang ini tidak akan bertahan lama.
Implikasinya bagi Indonesia, sebagai salah satu pasar fesyen terbesar di Asia Tenggara dan importir tekstil utama, cukup serius. Merek-merek cepat saji seperti Shein, Temu, dan Zara yang merajai e-commerce Tanah Air akan menghadapi tekanan biaya. Kenaikan harga pakaian murah bisa memicu inflasi pakaian jadi, sementara produsen tekstil lokal yang masih bergantung pada bahan baku impor juga akan terjepit. Di sisi lain, peluang terbuka bagi industri daur ulang serat dan kapas organik dalam negeri, meskipun kapas pun tak sepenuhnya aman: India, produsen kapas terbesar kedua dunia, bergantung pada gas alam dan urea dari Teluk untuk pupuk, sehingga harga kapas sudah melonjak.
Menariknya, krisis ini justru menjadi ujian bagi komitmen keberlanjutan merek-merek global. Inditex (pemilik Zara) dan H&M, yang hampir seluruh poliesternya berasal dari bahan daur ulang, dinilai lebih siap menghadapi gangguan dibandingkan Uniqlo milik Fast Retailing. Uniqlo mengandalkan kain fungsional rekayasa tinggi yang lebih dari setengahnya masih berbasis poliester virgin. Sementara itu, biaya transportasi juga ikut membebani. Crocs, misalnya, mengakui ongkos kirim berdampak lebih besar pada margin daripada harga resin plastik. Setiap kali konsumen memesan dari Asos atau Temu, mereka secara tidak langsung memesan slot kargo udara yang bahan bakarnya ikut terpanggang oleh krisis minyak.
Paul Vogel, CFO VF Corporation (induk Timberland dan The North Face), memperkirakan tekanan margin baru akan terlihat pada tahun fiskal 2028, bukan 2027. Namun, ketika dampaknya tiba, kenaikan harga diperkirakan bersifat jangka panjang. Pertanyaannya, mampukah industri fesyen cepat saji beradaptasi sebelum konsumen benar-benar merasakan kantong mereka terkuras? Atau justru krisis ini akan mempercepat peralihan ke mode berkelanjutan yang selama ini hanya menjadi wacana?



