Van Aert Menang Sprint Epik di Vuelta, Mas Kokoh di Puncak Klasemen
Baca dalam 60 detik
- Van Aert memenangkan etape 13 Vuelta dengan akselerasi di 3,7 km terakhir, mengalahkan Paret-Peintre.
- Kemenangan ini menegaskan dominasi Van Aert di grand tour, setelah sukses di Tour dan Giro.
- Enric Mas mempertahankan jersey merah dengan keunggulan 1 menit 45 detik atas Roglic jelang etape pegunungan.

Wout van Aert kembali membuktikan kelasnya sebagai salah satu pebalap serba bisa terbaik dunia. Pada etape 13 Vuelta a Espana, Jumat (29/8), pebalap Belgia itu memenangkan sprint dramatis setelah melepaskan diri dari rombongan besar di kilometer-kilometer akhir. Ini menjadi kemenangan grand tour ketiganya secara beruntun, setelah sebelumnya sukses di Tour de France dan Giro d'Italia.
Etape sepanjang 192,8 kilometer dari Almunecar menuju Loja ini menyajikan taktik yang menarik. Sebuah rombongan besar berisi 43 pebalap terbentuk di awal, sebuah pemandangan yang jarang terjadi di grand tour. Namun, Van Aert dan Valentin Paret-Peintre memilih untuk tidak menunggu sprint massal. Mereka berduet di 3,7 kilometer terakhir dan berhasil membuka gap yang cukup untuk mengunci dua posisi teratas.
Van Aert, yang dikenal dengan kekuatan sprintnya, mengakui bahwa serangannya adalah keputusan yang diperhitungkan. "Saya melihat profil lintasan dan tahu ada tanjakan pendek menjelang finis. Pada jarak seperti itu, biasanya para pebalap mulai berpikir tentang sprint. Jika Anda bisa membuka gap, mereka tidak akan mau mengejar satu sama lain," ujarnya seperti dikutip BBC Sport. Strategi ini terbukti jitu, meski Paret-Peintre sempat memberikan perlawanan sengit.
Di belakang dua pebalap terdepan, Matthew Brennan, rekan setim Van Aert di Visma-Lease a Bike, finis ketiga dengan selisih 24 detik. Brennan, yang sudah memenangkan tiga etape di Vuelta ini, menunjukkan konsistensi yang luar biasa. Sementara itu, para pesaing klasemen umum seperti Enric Mas dan Primoz Roglic tiba bersama kelompok utama dengan selisih tiga menit dari pemenang etape.
Mas, pemimpin klasemen dari tim Movistar, tetap mempertahankan jersey merah dengan keunggulan satu menit 45 detik atas Roglic. Namun, etape pegunungan pada Sabtu (30/8) dengan rute 154,5 kilometer dari Jaen ke La Pandera akan menjadi ujian sesungguhnya. La Pandera adalah tanjakan kategori satu yang panjang dan curam, yang bisa mengubah peta persaingan secara drastis.
Bagi penggemar balap sepeda di Indonesia, Vuelta a Espana memang mungkin tidak sepopuler Tour de France. Namun, aksi Van Aert ini layak menjadi perhatian karena menunjukkan bagaimana strategi dan keberanian bisa mengalahkan kekuatan kolektif. Di Indonesia, meski belum ada pebalap yang tampil di grand tour, antusiasme terhadap olahraga ini terus tumbuh, terutama dengan adanya event seperti Tour de Indonesia dan semakin banyaknya komunitas penggemar balap sepeda.
Kemenangan Van Aert juga menegaskan dominasi tim Visma-Lease a Bike di musim ini. Selain Van Aert, mereka memiliki Matthew Brennan yang tampil impresif. Namun, tantangan terbesar bagi tim asal Belanda itu adalah menjaga kondisi pebalapnya di sisa etape yang masih panjang. Sementara itu, di klasemen umum, persaingan antara Mas dan Roglic masih terbuka lebar. Roglic, yang pernah memenangkan Vuelta empat kali, pasti akan mencoba menyerang di pegunungan.
Dengan hanya beberapa hari tersisa sebelum tiba di Madrid, pertanyaan besarnya adalah: akankah Mas mampu bertahan dari serangan Roglic yang dikenal sebagai pendaki ulung? Atau akankah Roglic menemukan celah untuk merebut kembali jersey merah? Satu hal yang pasti, etape pegunungan besok akan menjadi penentu arah persaingan menuju podium tertinggi.



