Kendalikan Tekanan Darah, Risiko Demensia Turun 15 Persen: Studi China
Baca dalam 60 detik
- Intervensi penurunan tekanan darah berbasis komunitas di China berhasil memangkas risiko demensia hingga 15 persen dalam tujuh tahun.
- Studi melibatkan hampir 34.000 orang dewasa di 326 desa, menunjukkan efektivitas program yang melibatkan tenaga kesehatan non-dokter.
- Temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan hipertensi sebagai strategi pencegahan demensia, dengan implikasi bagi sistem kesehatan di negara berkembang seperti Indonesia.

Sebuah studi berskala besar yang dipresentasikan dalam Kongres European Society of Cardiology (ESC) 2026 mengungkapkan bahwa pengendalian tekanan darah yang ketat dapat menekan risiko demensia hingga 15 persen dalam kurun waktu tujuh tahun. Riset yang digelar di China ini menjadi salah satu bukti terkuat bahwa hipertensi bukan sekadar faktor risiko penyakit jantung, tetapi juga pintu masuk menuju penurunan fungsi kognitif di usia lanjut.
Penelitian yang berlangsung di bawah payung China Rural Hypertension Control Program (CRHCP) ini melibatkan hampir 34.000 partisipan dengan usia rata-rata 63 tahun dari 326 desa di kawasan rural. Separuh dari desa tersebut menerima intervensi intensif yang dipimpin tenaga kesehatan komunitas non-dokter, sementara sisanya mendapat perawatan biasa. Target yang dipasang cukup ambisius: tekanan sistolik di bawah 130 mmHg dan diastolik di bawah 80 mmHg bagi kelompok intervensi.
Hasilnya, setelah tujuh tahun, kelompok intervensi tidak hanya mencatat penurunan tekanan darah yang lebih signifikan, tetapi juga menunjukkan penurunan risiko demensia sebesar 15 persen dan risiko gangguan kognitif sebesar 13 persen dibandingkan kelompok kontrol. Angka ini memberikan harapan baru di tengah minimnya terapi yang mampu menghentikan laju demensia, penyakit yang diperkirakan akan terus meningkat seiring bertambahnya usia populasi global.
Yingxian Sun, direktur Departemen Kardiovaskular di Rumah Sakit Afiliasi Pertama Universitas Kedokteran China sekaligus peneliti utama CRHCP, menegaskan bahwa hipertensi memang telah lama dikenal sebagai faktor risiko demensia yang dapat dimodifikasi. Namun, bukti jangka panjang tentang efektivitas penurunan tekanan darah dalam mencegah demensia di tingkat populasi masih terbatas. "Studi ini menunjukkan bahwa intervensi yang dapat diskalakan, yang dilakukan oleh tenaga kesehatan non-dokter, tidak hanya menurunkan tekanan darah secara substansial tetapi juga mengurangi risiko demensia," ujarnya dalam siaran pers.
Para ahli yang tidak terlibat dalam studi ini menyambut positif hasil tersebut. Dung Trinh, internis dari MemorialCare Medical Group dan kepala medis Healthy Brain Clinic di California, menilai pendekatan yang digunakan sangat praktis dan mudah diterapkan di berbagai negara. "Yang menonjol adalah intervensi ini tidak memerlukan spesialisasi tinggi; dilakukan oleh tenaga kesehatan komunitas terlatih dengan pengawasan dokter layanan primer. Ini membuat temuan sangat relevan untuk perawatan kesehatan nyata," katanya.
Trinh menjelaskan bahwa tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah kecil di otak, memicu stroke dan cedera vaskular yang tidak disadari, serta mengurangi ketahanan otak terhadap degenerasi saraf. "Dengan mengendalikan tekanan darah, kita dapat mengurangi kerusakan vaskular kumulatif, menjaga aliran darah, dan berpotensi mengurangi beban gabungan penyakit vaskular dan patologi terkait Alzheimer," imbuhnya. Namun, ia mengingatkan bahwa studi ini hanya melihat demensia secara umum, sehingga tidak bisa disimpulkan bahwa penurunan tekanan darah secara spesifik mencegah Alzheimer atau mengubah biologi amiloid dan tau.
Senada dengan itu, Yu-Ming Ni, kardiolog dari MemorialCare Heart and Vascular Institute, menekankan bahwa temuan ini memperkuat pemahaman yang sudah ada tentang peran tekanan darah dalam kesehatan neurovaskular. "Sel-sel otak membutuhkan sirkulasi yang sehat untuk berfungsi. Mengingat sensitivitas otak terhadap tekanan darah, tidak mengherankan jika pengaturan tekanan darah yang baik penting untuk membawa aliran darah dan nutrisi ke otak," jelasnya.
Bagi Indonesia, temuan ini memiliki relevansi yang besar. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan prevalensi hipertensi di tanah air masih tinggi, mencapai 34,1 persen pada populasi dewasa, sementara kesadaran dan kepatuhan pengobatan masih rendah. Jika intervensi berbasis komunitas seperti yang dilakukan di China dapat diadaptasi, bukan tidak mungkin Indonesia bisa menekan beban ganda penyakit tidak menular, termasuk demensia yang diproyeksikan meningkat seiring bertambahnya usia harapan hidup.
Langkah selanjutnya yang diharapkan para peneliti adalah replikasi temuan ini pada populasi yang lebih beragam, serta pendalaman mekanisme di balik penurunan risiko demensia. Apakah manfaatnya terutama berasal dari pengurangan stroke dan cedera otak vaskular, atau ada efek yang lebih luas pada neurodegenerasi terkait Alzheimer? Pertanyaan ini masih menggantung, tetapi satu hal yang jelas: mengendalikan tekanan darah bukan hanya menjaga jantung, tetapi juga menjaga masa depan kognitif kita.



