Di Lebanon Selatan, Bendera Israel dan Pos Pemeriksaan Tandai Awal Pendudukan
Baca dalam 60 detik
- Israel mendirikan pos pemeriksaan dan mengibarkan bendera di zona keamanan yang diumumkan sepihak di Lebanon selatan, menghalangi akses jurnalis dan organisasi kemanusiaan.
- Kesepakatan kerangka kerja AS-Lebanon-Israel belum mengubah realitas di lapangan; Israel bersikeras tidak akan mundur sebelum Hizbullah dilucuti.
- Kehadiran warga Kristen di wilayah yang nyaris kosong itu dianggap penting untuk menjaga keberadaan Lebanon di daerah tersebut.

Bendera Israel berkibar di atas jalan menuju Naqura, kota pesisir selatan Lebanon, hanya beberapa meter dari pagar logam yang menandai apa yang disebut Israel sebagai "zona keamanan". Seorang tentara Israel melalui pengeras suara memerintahkan rombongan jurnalis yang tergabung dalam konvoi organisasi kemanusiaan Kristen untuk berbalik: "Putar balik, kalian tidak memiliki izin untuk lewat."
Pemandangan itu, yang disaksikan langsung oleh jurnalis AFP untuk pertama kalinya sejak pertempuran mereda, mengonfirmasi bahwa militer Israel telah memperluas kehadiran fisiknya hingga lebih dari lima kilometer dari posisi terakhir tentara Lebanon. Wilayah antara kedua pasukan itu kini nyaris menjadi daerah tak bertuan, hanya sesekali dilintasi patroli Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL).
Di sepanjang jalan, bendera Lebanon dan spanduk kuning Hizbullah yang robek dan pudar masih terpasang, saksi bisu dari bulan-bulan perang yang telah berlalu. Di dekat gerbang besi kuning yang baru didirikan, gundukan tanah menghalangi jalan. Tiga tentara Israel terlihat di balkon sebuah rumah dua lantai; satu memerintahkan konvoi mundur, satu mengamati dengan teropong, dan yang ketiga tampak mengenakan tallit—selendang doa Yahudi. Jaring pengaman di sekeliling balkon diduga sebagai antisipasi serangan drone yang kerap digunakan Hizbullah.
L'Oeuvre d'Orient, sebuah organisasi Katolik yang rutin menyalurkan bantuan ke kantong-kantong Kristen di Lebanon selatan, telah merencanakan kunjungan ke desa Debl, Rmeish, dan Ain Ebel untuk meresmikan zona olahraga yang didanai bersama batalion Prancis UNIFIL. Namun, setelah konvoi mundur beberapa kilometer dan menunggu berjam-jam di dekat pangkalan batalion Italia, Israel menolak izin masuk. Pasukan Prancis akhirnya pergi sendiri meresmikan pusat tersebut.
Hugues de Woillemont, pimpinan organisasi di Prancis, menyayangkan pembatalan itu. Ia berharap dapat menyampaikan kepada warga desa bahwa "kami tidak melupakan mereka". Sementara itu, Vincent Gelot, direktur L'Oeuvre d'Orient di Lebanon, menekankan pentingnya keberadaan desa-desa Kristen di tengah wilayah yang mayoritas penduduk Syiahnya telah mengungsi. "Tanpa desa-desa ini, tidak akan ada lagi warga Lebanon di bagian Lebanon ini. Kehadiran mereka adalah kehadiran bagi seluruh Lebanon, bukan hanya bagi umat Kristen," ujarnya.
Kolonel Maxime Laudet dari batalion Prancis, yang kembali dari Ain Ebel, mengatakan bahwa warga yang tersisa hanya ingin "hidup". Namun, harapan itu masih jauh dari kenyataan. Meskipun ada kesepakatan kerangka kerja yang ditengahi AS pada akhir Juni—yang menyerukan penarikan Israel dan penempatan tentara Lebanon—para pejabat Israel berulang kali menegaskan bahwa pasukan mereka tidak akan meninggalkan Lebanon sebelum Hizbullah dilucuti. Sejumlah pakar meragukan Beirut mampu memenuhi syarat tersebut.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat Indonesia memiliki kontribusi dalam misi UNIFIL (sebagai bagian dari Kontingen Garuda) dan kerap mendukung kedaulatan Lebanon. Jika Israel memperluas pendudukan de facto, hal itu dapat mempengaruhi stabilitas kawasan dan menempatkan personel UNIFIL dalam posisi yang lebih rumit. Pertanyaannya, akankah tekanan internasional cukup kuat untuk memaksa Israel mundur sesuai kesepakatan, atau justru zona keamanan ini akan menjadi permanen?



